ENESTE.ID
  • Home
  • Tentang Kami
  • Puisi
  • Buku
  • Quote
  • Berita Sastra
  • TBM Cahaya Rumah
    • Literasi Sekolah
      • TK
      • SD
      • SMP
      • SMA
      • KAMPUS
    • Lomba
  • Contact Us
  • Puisi

    Buku

    Berita Sastra


    RITUS LUMBUNG KOSONG

    Luku subuh mengeram karat,
    hujan mendikte galengan:
    hidup remah rehat yang ringkih,
    bukan igauan lumat di ujung arit.

    aku berjaga setia,
    menatah nyala di antara pematang pecah;
    melangkah berpaut tenggok,
    mengeras jadi diri.

    kita benar-benar tak tiba,
    hanya singgah; 
    satu tanya meranggas di lumbung kosong.
    abadi bukan jawaban,
    melainkan keberanian melawan ketakpikirkan

    Bantul, 2026


    SEKERAT RINDU DI BATU KARANG

    Kutulis namamu pada butir-butir garam
    agar larut mengkristal dalam darahku, 
    engkau adalah aroma tanah setelah hujan 
    yang paling tabah memeluk akar rindu.

    Matahari; lelah mengecup kening laut 
    tapi aku tak pernah jemu mencium jejakmu,
    sebab di matamu, kulihat ribuan perahu 
    memulangkan sauh ke pelabuhanku.

    Kekasih, biarlah cinta ini sekeras karang di pesisir 
    namun selembut buih yang mencium kakimu, 
    aku ingin menjadi doa yang paling khusyuk 
    yang diselipkan angin di relung cadarmu.

    Jika nanti aku hilang ditelan ombak 
    temukan aku di dalam debar jantungmu,
    sebab di sana, aku telah mengerami karang
    dari sari pati rindu dan sorot matamu.

    Bantul, 2026

    Wahyu Tanoto. Mukim di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia Menulis esai, kumpulan puisi, cerpen, geguritan, ceria anak dan fiksi mini. Beberapa kali menjuarai event puisi. IG: @yutanbantul
    Oleh: Muhammad Asqalani eNeSTe 


    21 Desember 2025, di sebuah pagi yang bergerimis. Beberapa orang seniman serta para undangan menggesa langkah ke roof top kafe Kopi Uwo.

    Apa pasal? 
    Acara peluncuran buku Dalam Sunyi Aku Pulang akan segera dimulai. 


    Buku puisi Dalam Sunyi Aku Pulang (selanjutnya disingkat DSAP) adalah karya perdana Cindy Neo. Seorang perempuan kelahiran Pekanbaru, yang jatuh cinta pada kata-kata, khususnya puisi. Beliau salah satu penggagas Malam Puisi Pekanbaru (MPP) yang sempat marak diadakan dari kafe ke kafe di seantero kota bertuah ini.


    Turut hadir CEO Komunitas Seni Budaya (KSB) Rumah Sunting, yaitu Kunni Masrohanti. Kunni, merupakan pembicara atau pengulas dalam acara bedah buku DSAP.

    Dimoderatori oleh Gesty, acara berjalan dengan baik dan lancar, sesekali penonton bertanya. Kunni dan Cindy menjawab. Kerap wajah Cindy tampak sumringah, sebab acara kecil ini sangat berarti baginya. Sebuah langkah awal untuk karya-karya selanjutnya.

    Dimeriahkan dengan pembacaan puisi dari buku DSAP oleh Murparsaulian, Mulyati Umar dan seorang pembaca puisi balita Nawaitu Flliora Linchpin dari TBM Cahaya Rumah.


    Di antara jejer kursi, tampak DR. Bambang Kariyawan, Eko Ragil Ar-rahman, Sausan Al Ward, Mr Lie, Daris Kandadestra, Laura Rafti, Muhammad Asqalani eNeSTe. Hadir pula Duta Baca Riau, Wahyu Abla, yang sesekali membalik buku DSAP di tangannya.

    Ada sejumlah teman atau circle Cindy yang hadir, mereka tampak antusias dan bahagia. Barangkali perayaan buku ini juga, perayaan persahabatan mereka yang mesti dijaga.

    Suara Cindy sebelumnya tak pernah kita dengar. Tapi melalui panggung kecil diskusi ini, pikiran kita kini berjalan, bahwa sebenarnya penyair atau setidaknya penulis perempuan ini ternyata telah lama berpeluk erat dengan puisi.

    Sukses!

    Muhammad Asqalani eNeSTe. (Guru, Penyair, Editor dan Mentor Menulis Puisi Online di Asqa Imagination School (AIS)).

    Aku yang Kau Miliki

    Lututku berkarat, sebab sujud ini
    Ia hanya punya satu arah
    Adalah palung dadamu
    Takzim yang sungsang
    Namun paling tenang

    Koyak saja warasku
    Biarkan ludahmu menjadi ragi bagi luka
    Yang sengaja kurawat
    Demi kata 'kita'

    Suara-suara terasa membatu
    Menolak bising dunia
    yang buta pada namamu
    Hanya suaramu, kusesap sebagai candu

    Jika ini kiamat,
    Biarkan aku mati dalam peluk angkuhmu
    Tanpa sisa
    Hingga aku lupa pernah ada

    Nusa Tenggara Barat, 26 Maret 2026

    Yang Menang Bukan yang Benar

    Emas digali dari pori-pori bumi yang bernanah
    Timah panas mengucur, melumasi kantong-kantong berbulu
    Sementara di meja makan kami, hanya ada piring kosong berdebu

    Persetan dengan keadilan
    Sebab hukum hanyalah sekrup yang bisa diputar
    Asal kau punya obeng dari tumpukan uang

    Kecerdasan?
    Hanyalah gubal yang layak dibuang
    Di sini, otak cemerlang jadi pajangan di pojok gudang
    Disingkirkan telangkas-telangkas berperut buncit yang kenyang menyusu upeti

    Gelar akademik hanyalah bungkus kacang di pinggir jalan
    Tak guna jika lidahmu tak mahir menjilat sepatu sang tuan
    Lihat si dungu itu, tawanya mengguntur, mengencingi tumpukan emas
    Ia tak butuh rumus, hanya tali pusar yang masih terikat pada tahta

    Uang bekerja lebih fasih dari doa
    Batu tak lagi batu di bawah kelopak mata hukum yang katarak
    Dosa menguap, menyisakan harum busuk yang disebut pahala
    Dan mata hukum, tekun menghitung lembar demi lembar merah

    Tunggu saja
    Saat luluk meluap, istana kaca kalian akan karam
    Tak ada uang yang cukup untuk menyogok maut agar bungkam
    Di liang lahat, emas kalian hanya pengganjal bangkai
    Semua akan dilahap tanah
    Menjadi abu yang tak lebih mahal dari debu jalanan

    Nusa Tenggara Barat, 30 Maret 2026

    Muhammad S Hadi, yang memperkenalkan diri di ruang digital dengan nama Hadi Arrasyid, adalah seorang penulis dan pekerja profesional yang tinggal di Nusa Tenggara Barat. Di usianya yang ke-36, ia mengintegrasikan etos kerja yang tinggi dengan kreativitas literasi sebagai bagian tak terpisahkan dari gaya hidupnya. Baginya, bekerja dan menulis adalah dua pilar yang saling menguatkan, bekerja memberinya perspektif realitas, sementara menulis menjadi ruang untuk mengolah makna dari setiap pengalaman. Nama IG: @aksa.ra1945

    Cermin yang Gelap

    Perihal cermin, susah kutemukan diri
    Gambar memburam di musim padang bulan
    Jelaga melekat di kesucian darah

    Menyusuri arteri dan vena diri
    Siapa peduli, aku menolak 
    Tapi nista menghitam sepanjang jalur jantung

    Kucari jalan menuju muara detak hulu
    Agar sejarum cahaya bisa menembus jalan pulang

    Bukit Nuris, 22 Maret 2026

    Lebaran di Telapak Kaki Ibu

    Takbir menggema, kaki ibu sunyi
    Nadi berdenyut di ujung jari
    Kian lenggang jalan menuju tumit

    Dulu telapakmu adalah penjelajah, di musim ikhtiar
    Hingga menguat urat kasih sayang

    Kini, rambut di kaki menjadi jembatan dalam mengabdi
    Kadang susah sekali kulewati

    Aku tergelincir dalam kelemahanmu yang bertambah
    Lalu mencipta jarak kunjungan

    Bukit Nuris, 23 Maret 2026

    Riami. Mengajar di SMPN 2 Pakisaji Malang, Jawa Timur. Aktif bergiat menulis di Sekolah Menulis elipsis,
    J-Maestro, Competer Indonesia. Menganyam kata-kata menjadi Bahagia. FB: Ria Mi, IG Riami7482, Tiktok: Riami335. Berkarya di Kompasiana.com. Tiras Time, dan media online lain dan beberapa majalah antara lain Elipsis dan HOMAGI. Menulis beberapa buku antara lain buku Drama Fantasi berjudul: Catatan Harian Belajar di Bukit Nuris ,Kisah Romansa di Negeri Awan (Kumpulan Puisi), Pelangi Kerinduan (Kumpulan puisi), Serpihan-Serpihan Kisah Kita (Kumpulan Cerpen), Sajak Biru (Kumpulan puisi), Tentang Matahari Kumpulan Puisi), diterbitkan oleh: Gue Pedia, J-Maestro, Laa Tahzan, dan Hyang Pustaka. Menulis buku solo kumpulan puisi Asmaul Husna dan Pukul 00.00 (heksagraf /cerpen enam paragraf) diterbitkan oleh J-maestro. Memimpin nubar puisi dan pentigraf di penerbit j Maestro. Menulis berbagai antologi bersama antara lain puisi, Cernak, cerpen dan Artikel. Cernaknya pernah dimuat di majalah Kedaulatan Rakyat Jogja, Nusantara Bertutur dan majalah elipsis. Aktif berkegiatan di group Kelas Menulis elipsis, Asqa Imagination School (AIS), COMPETER Indonesia, COMPETER Cabang Malang dan J-Maestro.

    Lentera di Atas Nisan Waktu

    Di ambang pagi, Ibu menggantungkan lenteranya—
    api kecil yang menirukan denyut bumi.
    Pagi berjalan seperti puisi Homeros,
    membawa kisah perjalanan panjang
    yang selalu kembali ke dekapan rumah.

    Tangannya mengetuk wajan tembaga,
    suara berulang menyerupai mantra purba.
    Di sela denting, angin memanggil pulang,
    dan dapur menjelma medan perang
    antara lapar dan harapan.

    Aku meresapi ragi yang menguapkan hidup,
    seperti Ikarus yang gagal belajar jatuh.
    Ibu menyiramnya dengan doa tipis
    yang mengalir dari keriput
    laksana sungai kecil mencari laut.

    Saat senja datang dengan langkah malas,
    Ibu berdialog dengan bayangannya sendiri.
    Mereka saling menukar beban:
    satu memeluk gelap,
    satu mengasuh terang.

    Dan ketika malam menutup halaman hari,
    lentera itu masih bernyala—
    menjadi saksi bahwa kasih tak pernah wafat.
    Jika esok kembali hancur,
    Ibu-lah yang pertama merajut ulang waktu
    dengan benang sabar yang tak pernah putus.

    Bandar Lampung, 14 Desember 2025

    Benang yang Menjahit Pulang

    Di jemarinya, jarum berdansa,
    menusuk pagi yang hampir retak,
    mengikat sunyi yang berlari kencang,
    seakan jarumnya adalah kompas sunyi,
    menambal celah hari tanpa suara.

    Ia menjahit pulang di lekuk senja,
    menarik benang jingga yang bandel,
    membuat angin menunduk hormat,
    membuat bayang kembali merapat,
    meski pekat malam berusaha merebutnya.

    Kursi tua itu menggerutu,
    merindukan punggung yang tak henti bergoyang lembut—
    Ibu menenun waktu,
    menipu usia yang tak bertepi,
    membuat detik seolah berhenti bernapas.

    Kadang ia menertawakan gelap,
    kadang menghibur terang,
    dua musuh berdamai di matanya yang teduh,
    dua dunia saling memanggil,
    namun ia tetap menjadi jembatan yang tak pernah patah.

    Dan ketika simpul terakhir mengikat ujung malam,
    ia bisikkan mantra lama—
    “Pulang… pulang…”
    hingga bumi ikut mendekap hangat,
    dan aku pun mengerti:
    setiap langkahku hanyalah jalan kembali ke pangkuannya.

    Bandar Lampung, 11 Desember 2025

    Timothy Yan Felix Sitorus. Lahir di Bandar Lampung pada 8 Januari 2009 dan saat ini berdomisili di Bandar Lampung, Provinsi Lampung. Ia merupakan siswa SMA Negeri 5 Bandar Lampung yang menaruh minat besar pada dunia akademik, literasi, serta pengembangan gagasan melalui tulisan. Sejak di bangku sekolah, Timothy dikenal sebagai pribadi yang tekun, disiplin, dan memiliki ketertarikan kuat pada ilmu pengetahuan serta refleksi terhadap berbagai persoalan pendidikan dan sosial.

    Ketertarikannya pada bidang akademik mendorongnya aktif mengikuti berbagai kompetisi ilmiah. Ia pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang IPA tingkat SMP serta meraih medali perak dalam kompetisi olimpiade matematika. Pada tahun 2024, ia meraih medali emas dalam Olimpiade Sains Indonesia (OSI) tingkat nasional bidang Geografi. Capaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan intelektualnya dalam mengasah daya pikir kritis, analitis, dan kepekaan terhadap dinamika pengetahuan.

    Di luar kegiatan akademik, Timothy juga aktif dalam kegiatan sosial dan lingkungan sebagai anggota Duta Bank Sampah. Ia memiliki kegemaran membaca dan mendengarkan musik, yang baginya menjadi ruang perenungan sekaligus sumber inspirasi dalam menulis. Melalui tulisan-tulisannya, Timothy berupaya menghadirkan gagasan, refleksi, serta harapan tentang pendidikan, masyarakat, dan masa depan generasi muda.

    Timothy dapat dihubungi melalui Instagram: @tyfelixs_ serta Youtube: @TimothyYanFelixSitorus

    Simfoni Jalan Pulang

    sejauh sajak
    membawaku dalam kata taat
    di atas ijab perjanjian
    satukan dua telapak yang berdetak
    putuskan penantian adalah jalan pulang yang kunotahkan

    halaman itu masih pagi
    dari halimun manja yang belajar berdiri
    tiup lembut kekosongan sebelum fajar berpijar di ufuk mekar
    sambut megahnya rona
    dari harap-harap petualangan ganda

    namun,
    onak kadang berai langkah usang
    patahkan jembatan jejak
    tusuk daging atas tapak letak
    lumpuhkan derap pelarian 
    samarkan penglihatan dari sesat tanpa kompas map
    kadang rutuk jadi mantra paling celetuk
    di lain waktu amarah membakar sabar yang sekadar

    lintasan pelajaran hidup
    berpelukan erat ingin dipujuk
    jangan lagi ingkar
    tak ada lagi mungkar
    sebaik-baik kembali 
    adalah melepas dengan ikhlas
    buang kengerian balas dendam 
    yang hanya memadamkan cahaya iman

    Rantauprapat, 28 Februari 2026

    Janji Iblis yang Patah Hati

    terkisah bumi mungil beranak dari langit
    ledakan-ledakan kehidupan disuguh dalam detak yang mendarah
    Tuhan titahkan Adam 
    jadi pemegang saham

    iblis meradang
    meringis merasa dicampakkan
    dipecat jadi kaki tangan paling kanan
    patah hati yang paling ngeri
    dimakan kesombongan 
    merasa dikucilkan

    jalan kiri dari simpang pengusiran
    ada dendam cinta yang haus diikrarkan 
    ia beranak jadi api-api kesumat 
    atas sejengkal alir darah titis di umat

    sampai kiamat 
    tak kubiarkan anak cucumu khidmat 
    dalam kata selamat

    aku takkan memuja maaf
    biar habis neraka kusergap; 
    kusembur warisan tengil 
    untuk karyawan perusahaan iman karatan

    Rantauprapat, 20 Februari 2026

    Yenni Reslaini, lahir pada 14 Juni 1990 di Marbau, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara. Bergabung dengan forum kepenulisan FLP Labuhanbatu pada 2015. Menulis enam buku solo, termasuk dua novel: Takdir Ilalang (2020, Penerbit Ahsyara) dan Mak, Yak Aku Pulang (2024. Kumpulan puisi Membatas Luka Mengikat Lara (Desember 2023). Kumpulan cerpen Kita, Chapter-chapter Bisu dalam Buku Tabu (2024). Buku kumpulan senandika Monolog Kura-kura (2024). Dan kumpulan puisi Sebab Warna Jatuh di Senja. Ia juga mengikuti kelas puisi di Asqa Imagination School (AIS). Juara 1 di ABA XXI, ajang pencarian Duta Baca Online yang diselenggarakan oleh Muhammad Asqalani eNeSTe dan disponsori oleh Asqa Imagination School (AIS). Fasilitator di SDIT Alam Arrozaq Rantauprapat. Contact via Gmail: yennireslainiritonga@gmail.com atau cek sosmed di Facebook: Yenni Reslaini Ritonga, Instagram: @Meoxij, WA: 082231819632.

    Muara Sunyi

    Sungai, mengajarkan kehidupan yang bergerak mengalir dari masa lalu dan masa depan
    Sungai, mengajarkan kehidupan yang tak menyerah dan bertujuan
    Sungai, mengajarkan silaturahim, saling terhubung, terjalin persaudaraan
    Sungai, mengajarkan kegigihan dari bebatuan kehidupan, tak lelah alam yang menggarang, hujan dan angin kencang tak membatasi capaian
    Sungai, mengajarkan kelembutan, keindahan dan kemanfaatan tempat berkelangsungan 
    Namun, ia terlupakan
    Ia harus menampung segala kebiadaban
    Ia harus menanggung segala kebusukan
    Ia harus memikul dosa-dosa bani adam

    Sungai, telah mengering pada aliran darah insan

    Pekanbaru, 3 Maret 2026

    Praja

    Pepohonan rindang berubah gedung menjulang
    Tanah-tanah lembab berganti aspal keras
    Hewan-hewan bebas terperangkap
    Sungai-sungai bening menjadi besing
    Ladang-ladang hijau gersang
    Kesejukan direbut kepanasan
    Keheningan dibunuh kebisingan
    Kesunyian menjelma keramaian
    Ketenangan ditikam kepikukan

    Mereka yang kehilangan garapan menjadi kuli
    Mencukupi anak istri bersaing tak henti
    Kalah kemampuan diri bersiap tertindih

    Kota biarlah kota
    Desa tetaplah desa
    Ada rindu dari kota ke desa menenangkan jiwa
    Ada hasrat ke kota mencuci mata
    Keseimbangan jangan dikerat

    Pekanbaru, 3 Maret 2026

    Sausan Al Ward. Berdomisili di Pekanbaru. Dapat dihubungi pada IG: @sausan_al_ward serta email sausanalward55@gmail.com. Emerging Balige Writers Festival (BWF) 2025. Juara I lomba cerpen Penerbit Kertas Sentuh (2021). Terbaik II Apresiasi Cerpen Riau Sastra Festival (2023). Juara II Lomba Cerpen Penerbit Prospec Media (2021). Pemenang 3 lomba Cerpen Sastravaganza Tempo Institute (2024). Juara III lomba Cerpen tingkat Nasional Penerbit Media Lintas Pustaka (2023). Juara III Lomba Dongeng Tianisa Bookstore (2021). Juara Harapan I Lomba Cerpen The Journalist Publishing (2021). 15 besar penulis terpilih penulisan esai Inkubator Literasi Pustaka Nasional Tk Provinsi Riau (2023). Puisi terpilih Jambore Sastra Asia Tenggara di Banyuwangi (2024). Lolos kurasi Sastra Serumpun (2025), Lolos kurasi cipta puisi ASEAN (2024). Lolos kurasi puisi tema Bencana Komunitas Kuflet dan Majalah Elipsis (2024 dan 2025), Lolos kurasi puisi Si Binatang Jalang Hari Puisi Nasional (2025), lolos kurasi puisi Buitenzorg Dewan Kesenian Bogor (2025) serta kurasi puisi lainnya. MC Pemerintahan dan pernah menjadi presenter TV lokal, juara II lomba Pembawa Acara Antar Instansi Provinsi Balai Bahasa Provinsi Riau (2014).
    Postingan Lama Beranda

    ABOUT US

     



    Platform berisi puisi, quote, buku, dan berita sastra yang diprakarsai oleh Muhammad Asqalani eNeSTe, Eko Ragil Ar-rahman & Cindy Neo.

    SUBSCRIBE & FOLLOW

    POPULAR POSTS

    • Puisi-Puisi Riami
    • Puisi-puisi Timothy Yan Felix Sitorus
    • Puisi-puisi Hadi Arrasyid
    • MERAYAKAN HARI IBU DENGAN MELAHIRKAN BUKU
    • Puisi-Puisi Yenni Reslaini
    • Puisi-puisi Adnan Guntur
    • Puisi-Puisi Sausan Al Ward
    • Puisi-Puisi Galuh Duti
    • Puisi-Puisi Esti Rusia
    • Puisi-Puisi Wahyu Tanoto

    Categories

    • Berita Sastra 1
    • Puisi 22
    • quote 4
    • sastra 22
    • Sastra 4
    • Tentang Kami 1
    • tulisan 1

    Advertisement

    Formulir Kontak

    Nama

    Email *

    Pesan *

    ENESTE.ID



     

    Copyright © ENESTE.ID. Designed by OddThemes