ENESTE.ID
  • Home
  • Tentang Kami
  • Puisi
  • Buku
  • Quote
  • Berita Sastra
  • TBM Cahaya Rumah
    • Literasi Sekolah
      • TK
      • SD
      • SMP
      • SMA
      • KAMPUS
    • Lomba
  • Contact Us
  • Puisi

    Buku

    Berita Sastra


    SETITIK DEBU

    Hanya setitik debu
    yang singgah di pipimu,
    diam-diam menyentuh kulitmu
    sebelum bersembunyi
    di balik bantal tempat tidurmu.

    Tak kau usir.
    Tak kau sadari.
    Ia tinggal seperti kenangan
    yang datang tanpa mengetuk,
    lalu menetap
    meski tak pernah diminta.

    Barangkali ia membawa
    sisa jalan yang pernah kita lewati,
    aroma sore yang tertinggal
    di ujung rambutmu,
    dan suara namaku
    yang dulu begitu dekat.

    Malam turun perlahan.
    Kepalamu rebah di bantal,
    dan setitik debu itu
    tetap di sana,
    seperti sesuatu yang kehilangan rumah
    namun belum rela pergi.

    Pagi akan datang.
    Kau mungkin mengguncang bantal itu,
    membiarkan debu jatuh
    dan hilang bersama cahaya.

    Tapi tidak semua yang jatuh
    benar-benar pergi.

    Ada yang menjadi debu.
    Ada yang menjadi kenangan.
    Dan ada yang menetap
    di sudut paling sunyi dari hati,

    meski pemiliknya
    sudah lama pergi.

    Pekanbaru, 23 Desember 2025

    DI MATAMU, SENJA

    Matamu berbinar bagaikan
    kelap-kelip bintang
    yang diam-diam menyalakan malam.

    Wajahmu memerah bagaikan
    langit dikala senja,
    ketika matahari perlahan pamit
    namun meninggalkan warna
    yang enggan dilupakan.

    Aku memandangmu
    tanpa banyak kata,
    sebab ada keindahan
    yang justru kehilangan makna
    ketika terlalu banyak dijelaskan.

    Senyummu adalah cahaya
    yang jatuh pelan di dadaku,
    menghangatkan ruang
    yang lama ditinggalkan sunyi.

    Dan entah mengapa,
    setiap kali matamu menatapku,
    aku merasa waktu berhenti sebentar,
    seolah semesta memberi kesempatan
    untuk menyimpan wajahmu
    lebih lama di ingatan.

    Jika suatu hari
    kau bertanya apa yang paling kuingat darimu,
    mungkin bukan suaramu,
    bukan langkahmu,
    bukan pula kata-kata yang pernah kau ucapkan.

    Melainkan sepasang mata
    yang pernah membuat malamku berbintang,
    dan wajah yang pernah membuat senja
    terasa begitu dekat.

    Kini kau telah pergi,
    dan anehnya,
    bintang-bintang masih berkedip,
    senja masih datang seperti biasa.

    Hanya aku yang tak lagi sama.

    Sebab sejak kau pergi,
    setiap kali kutatap langit,
    aku tak lagi mencari bintang.

    Aku mencarimu.
    Dan setiap kali senja tiba,
    aku kembali kehilanganmu
    untuk kesekian kalinya.

    Pekanbaru, 14 Januari 2026

    Abdul Hafidz AR, S.IP adalah penulis dan pegiat literasi yang berdomisili di Pekanbaru, Riau. Ia dipercaya sebagai Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kota Pekanbaru dan aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Selain berkiprah di dunia literasi dan komunikasi publik sebagai Humas PWI Riau, ia juga menulis opini di sejumlah portal daring. Sesekali, ia menuangkan kegelisahan dan refleksi tentang kehidupan melalui puisi dan cerpen.

    Bakpau di Desa Penambang
    Oleh: Lis Tya

    Celoteh manja gadis pendulang
    riuh di sela gelak tawa para penambang
    Nyanyian bambu indah berirama 
    hadirkan sukacita di atas gerai

    Sajian kopi temani pekatnya malam 
    Bakpau hangat olahan emak lengkapi suasana 
    Rasanya yang manis berbaur bersama kehangatan suasana
    Kulitnya yang putih seakan menjadi penerang

    Di sudut ruang yang temaram
    Bapak duduk bersila
    Mulutnya tak lepas dari puji-pujian
    Emak temani bapak dalam diam
    Dan aku, menjadi penawar yang dinantikan

    Cirebon, 10 Oktober 2026

    Lilis Setyawati, lahir di Banten adalah seorang Aparatur Sipil Negara yang mengabdikan diri sebagai guru Bahasa Indonesia di SMAN 6 Cirebon. Kecintaannya pada puisi membawanya bergabung di kelas Asqa Imagination School serta mengikuti ABA XXV. Beberapa puisinya dimuat di Tirastime, Ranah Riau, KKR Bali, Salmah Publishing. 
    Antologi puisi Silsilah Keringat Ayah, Balada Kursi-Kursi Tuan, Kumpulan Pantun Serumpun Hati Berpaut dalam Festival Pantun ASEAN. 
    IG: @lilissetyawati966

    Secobek Sambal Cinta
    Oleh: Novita Arief 

    Segelas musim telah tumpah
    Rajam segala gelisah
    Hangat pelukan bapak, adalah stok bahagia yang membuatku lupa
    Percakapan tergesa kabut dan hujan
    Tinggalkan gigil di pagi buta 

    Gemeretak kayu bakar di tungku
    Menunggu nasi matang ditanak ibu
    Jutaan lapar terbangkan rindu
    Pada secobek sambal brambang asem ulekan ibu
    Rasa pedas sempurnakan takdirku
    Manis asam cobaan kuramu dalam bait-bait perjuangan 
    Ikan bakar serupa ketabahan berkobar
    Sisa bau belacan dan kemangi
    Menjadi aroma terapi penguji nyali

    Dan aku menjadi satu-satunya anak perempuan 
    Pewaris sah resep sambal ibu.

    Lumajang, 11 Oktober 2026

    Novita Arief Hidayati, perempuan kelahiran Lumajang 48 tahun lalu, mengabdikan diri sebagai pengajar di SMPN 1 Tempursari Lumajang. Suka membaca puisi sejak di bangku Taman Kanak-kanak, baginya puisi adalah terapi. Pernah belajar menulis puisi di kelas Asqa Imagination School Pada tahun 2023 sampai sengan tahun 2025. Beberapa karyanya dimuat di beberapa majalah online, Sepenuhnya dot. com, Tiras Media, Ranah Riau. Beberapa karyanya juga terbit dalam antologi dan Nubar. Anda bisa menghubungi di FB: Novita Arief Hidayati atau IG: @novit_a9019

    Lopis dan Luka
    Oleh: Rakhma Noen

    sepiring lopis
    dibungkus segitiga
    gurih ketan
    harum daun pisang
    menunggu di meja

    sejenak lupa
    sisa luka
    perdebatan sebelumnya

    mulut-mulut mengunyah
    lopis bertabur
    parutan kelapa

    rupanya masygul
    ditelan ketan
    siapa mulai tawa?
    sisa legit aren
    terselip di sela-sela gigi

    KWB, Oktober 2026

    keterangan:
    1. Lopis (atau lupis) adalah penganan atau kue basah tradisional khas Indonesia yang terbuat dari bahan dasar beras ketan.
    2. masygul adalah kata sifat (adjektiva) yang berarti Kesal atau sebal. (KKBI).

    Rakhma Agustina Sulistyowati, Perempuan asli Kota Batu Jawa Timur memiliki nama Rakhma Agustina Sulistyowati. Ia penyuka kucing dan menulis. Menulis puisi ibarat melatih daya lenting imajinasi dan rasa agar relevan  di tengah dunia yang terus berubah.
    Proses memuisi bersama kelas AIS 73 yang dikomandani Coach Muhammad Asqalani eNeSTe. Kabar sapa di IG: @rakhmanoen

    Selentingan
    Oleh: Kairan Hanafi

    Pernahkah,  
    kau dengar kabar tentang istana di ujung negeri?  
    Katanya, ada surga, tawa, nada hangat, merpati bawa surat kekasih
    Tapi tapak kaki kuda berjejak gelimang lumpur merah
    Saat badai mulai menampar pipi takhta yang pongah

    Pernahkah,  
    kau cium bau tanah ibu yang dihangus dendam?  
    Bau pasir panas di makam tandus,
    gandum gosong digiling halus,  
    asap tahta dari singgasana rakus

    Lalu kita?  
    Hanya butiran suara yang dilindas
    Di ujung jalan, bayi menangis
    Di atas, awan menyambar tembok bebal
    Di hilir, debu arang rumah mengalir

    Jadi,
    masih mau kau tangisi vonis sial yang diketok palu raja?
    Atau kau hanya menelannya,
    agar bisa ikut tertawa di pelukan istana?

    Pekanbaru, MMXXVI

    Kairan Hanafi, Siswa SMA Al-Huda Pekanbaru yang sangat suka menulis, membaca dan menggambar, kurang bisa berekspresif di depan orang dan lebih memilih terbuka di depan kertas dan di ujung pena. Kelahiran 7 Agustus 2008. Karyanya dibukukan dalam beberapa antologi, pernah dimuat di tirastimes.com, sepenuhnya.com, sanggam.id. Bergiat di Ekskul Sastra Al Huda. IG: @kei_han77

    It’s All Greek to Me
    Oleh: Setiabasa 

    Kukirim sepotong kalimat
    ke ruang tanpa pintu
    tak lama kemudian
    jawaban datang
    seperti hujan
    yang tahu ke mana harus jatuh

    Kata-katanya kukenal
    namun susunannya
    seperti alfabet
    dari negeri lain

    Kucoba meraba makna
    di sela-sela kalimat
    namun ia selalu
    selangkah lebih jauh

    Seperti berbicara
    kepada seseorang
    yang hafal seluruh kamus
    namun tak pernah
    merasakan satu pun kata

    Malam makin dalam
    layar tetap menyala
    aku mencari wajah
    di balik jawaban

    Dan tiba-tiba mengerti
    barangkali bukan bahasanya
    yang tak kupahami
    melainkan
    siapa yang sedang berbicara

    Rintis, 21 September 2026

    Setiabasa, seorang ibu rumah tangga, ibu dua orang putra dan nenek sepasang cucu. Menyukai membaca sejak kecil. Fiksi, non-fiksi dan juga puisi. Sejak akhir 2022 mengikuti beberapa kelas online: Uti, Asqa Imagination School (AIS), Ruang Kata, Symprerifora dll, untuk belajar menulis puisi dan karyanya sudah masuk dalam beberapa buku antologi puisi.

    Ia tengah mempersiapkan buku puisi perdananya. Aktif di Kelas Puisi Asqa Imagination School (AIS). IG: @setia.xu

    Pardon My French
    Oleh: Tri Rahmawati

    Maaf,
    malam ini
    lidahku kurang sopan.

    Ada kata-kata
    terlalu lama duduk manis
    di belakang gigi,
    pura-pura menjadi doa.

    Padahal ia marah,
    ia ingin mengetuk meja,
    menumpahkan gelas,
    lalu menunjuk jam dinding.

    Bukankah kau yang menyuruhku
    diam selama ini?

    Aku hanya tertawa kecil,
    sopan santun rupanya
    sering menjadi nama lain
    dari luka yang dipelihara.

    Pardon my French,
    sekali ini biarkan mulutku berteriak,
    sebab hati terlalu lama
    menjadi perempuan baik-baik.

    Lumajang, 21 September 2026

    Tri Rahmawati, S.T., M.T. adalah seorang Pegawai Negeri Sipil. Saat ini ia aktif menjabat sebagai Penata Kelola Penyehatan Lingkungan Ahli Muda pada Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Lumajang. Ia telah menamatkan S1 dan S2 Teknik Lingkungan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Ia dilahirkan di Lumajang pada 22 Maret 1988. Beberapa karya puisinya dimuat di media elektronik. Baginya, berkarya melalui tulisan bertujuan untuk menjaga kewarasan sekaligus medium warisan abadi. Aktif di kelas Puisi Asqa Imagination School (AIS) #72. Ia bisa disapa melalui Instagram: @tri32871.

    Akar Tertidur di Bawah Batu
    Oleh: Diny Nirmala Biru

    Di mana bukit meregang dada,
    bisikan runtuh di antara pekat mistik:
    tanah telan jejak-jejak tua,
    bungkus napasmu dengan senyap karam.
    Engkau tak pergi, Kakek,
    hanya memilih tinggal di urat-urat bumi.
    Tanganmu saban hari sapa ladang,
    Mendekap hening yang panjang,
    menyatu dengan dingin dada lereng legam.
    Longsor itu bukan sekadar debu dan batu,
    melainkan selimut kelabu pemeluk erat,
    jadi nama dan kenangan
    legenda berbisik dari akar ke akar,
    pahat abadi di dasar tebing tak tercapai mata.
    Biar dunia jalan di atas tanah ini,
    mereka jalan di atas napasmu yang abadi.

    Riau, 10 September 2026

    Diny Nur Asyfah dengan nama pena Diny Nirmala Biru lahir pada 6 Maret 2010. Ia adalah siswi dan pelajar berprestasi di SMK Negeri 1 Tualang, serta anggota Pramuka aktif. 

    Hobi Diny adalah merangkai puisi dari setiap pikiran yang tak sengaja terlintas, lalu membacanya kembali sebagai semangat untuk terus belajar dan bertumbuh. 

    Bagi Diny Nirmala Biru, menulis adalah cara berbakti dengan kata. Melalui karya-karyanya, ia ingin mengajak generasi muda berani bersuara, berani bermimpi, dan tetap menjunjung nilai kebaikan. Aktif di kelas puisi Asqa Imagination School (AIS). IG: @syfnd.grl

    Tepian Siak Sri Indrapura
    Oleh: Joyce Arifin

    malam menambat perahu
    bulan menggantung di ujung cerita
    tetua simpan hikayat pada lipatan tikar dan asap pelita

    di gubuk itu
    angin ketuk pintu kayu
    bawa pesen dari seberang
    ada janji yang masih terhutang

    tak ada prasasti mengukir kisah
    hanya celoteh emak:
    "jangan congkak pada bumi, sebab sungai tahu ke mana manusia pulang"

    kini,
    tepian kian sunyi, riuh telah lama pergi
    perahu perahu mengunyah jarak
    Sungai Siak tetap mengalir
    jaga dengung agar tak karam

    Melbourne, 13 September 2026

    Joyce Arifin. Tinggal di Melbourne, Australia. Suka puisi. Karya-karyanya terhimpun dalam sejumlah antologi. Aktif di Asqa Imagination School (AIS). IG: @joycearifin

    Sepetak Kasur Busa
    Oleh: Wahyu Tanoto

    Di sepetak kasur busa
    mimpi serupa kabut meliuk di balik gorden
    seorang terjaga dengan raga meriang menegang
    menatap tumpukan buku pada meja
    mengingat lembar-lembar catatan terserak
    dari laci yang usang
    kaca-kaca penatap berdebu dihantam cahaya.

    Ia mengeja-eja sebuah kata, “Hening”
    namun sunyi justru menelanjangi ingatan
    membawa gemuruh yang tak kunjung padam
    menjebaknya dalam labirin malam yang fana.

    Di sepetak kasur busa
    dibayangkannya mimpi adalah lorong kereta tua
    atau penunjuk jalan tanpa penerang
    yang membawa pengembara dari bising kota
    ke dasar sunyi jurang lelap terdalam.

    Pengembara dengan lingkar mata hitam
    dan lantai dipenuhi bayang-bayang hitam serta sisa penat.

    Ia teringat kembali tentang kegelisahan
    berkali-kali, berulang-ulang
    dan dibayangkannya mimpi seperti sulaman benang
    disusun perlahan dengan tangan lelah.

    Dibayangkannya mimpi seperti raga tanpa beban
    melompat tinggi menembus batas tembok kamar
    merasakan kebebasan liar yang selama ini terkurung.

    Mertosan Wetan, 14/09/26

    Wahyu Tanoto. Lahir di Banjarnegara pada Selasa Wage 28 April. Mukim di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia menulis esai, fiksi mini, geguritan, cernak dan cerpen. Puisi-puisinya diterbitkan dalam antologi dan diunggah ke media online. Beberapa kali memenangkan juara lomba cipta puisi. Instagram: @yutanbantul

    Oleh: Daris Kandadestra 

    Puisi "Ikkayu (2)" karya Muhammad Asqalani eNeSTe merupakan sebuah karya yang sarat akan ironi, kepedihan keluarga, dan potret kemiskinan yang digambarkan lewat metafora yang sangat lokal dan kontemporer. Judul antologinya sendiri, Abu Bakaran Ladang, menjadi puncak perumpamaan dari nasib kelam tokoh-tokoh di dalamnya.


    Berikut adalah analisis mendalam mengenai puisi tersebut berdasarkan struktur bait dan maknanya:

    1. Struktur Kebahasaan dan Pilihan Kata (Diksi)

    Satu hal yang paling mencolok dari puisi ini adalah perpaduan diksi melankolis klasik dengan bahasa slang/populer generasi masa kini (seperti uwuw, prikitiw, aha!).

    • Penggunaan kata-kata populer ini tidak membuat puisi menjadi jenaka, melainkan memperkuat efek ironi dan sarkasme—seolah-olah menertawakan nasib tragis di tengah getirnya kehidupan nyata.

    2. Analisis Bait per Bait

    Bait 1: Realitas Kemiskinan dan Konflik

    sepiring nasi
    sepiring dengki
    berkuah airmata
    digenang amarah

    Bait pembuka ini langsung menyuguhkan atmosfer yang mencekam dalam rumah tangga. "Sepiring nasi" menggambarkan keterbatasan ekonomi (serba kekurangan), yang kemudian memicu konflik emosional berupa "dengki", "air mata", dan "amarah". Hubungan domestik di dalam rumah ini tidak lagi hangat, melainkan penuh penderitaan.

    Bait 2: Sosok Ayah yang Semu

    kata ibu
    ayah si tebu tabu
    rasa manis
    tapi amis
    sikapnya klimis
    kata-katanya klamis
    laki-laki serba astaga

    Bait ini menggambarkan sudut pandang Ibu tentang sosok Ayah. Metafora "si tebu tabu" dan "rasa manis tapi amis" menunjukkan dualitas karakter sang ayah: di satu sisi tampak manis atau menjanjikan, namun di sisi lain menyimpan kebusukan atau pengkhianatan ("amis"). Penampilan fisik dan bicaranya mungkin tampak rapi ("klimis" dan "klamis"), namun perilakunya mengecewakan hingga disebut sebagai "laki-laki serba astaga" (membawa kepasrahan atau elusan dada).

    Bait 3: Ironi Cinta Ibu

    kubilang
    ibu kepalang cinta
    pada ayah yang uwuw
    kata ibu prikitiw
    kutahu itu adalah aha!

    Di sini, kata-kata modern/slang digunakan secara kontras. Kata "uwuw" (romantis/menggemaskan) dan "prikitiw" digunakan untuk menggambarkan relasi cinta yang absurd atau dipaksakan antara Ibu dan Ayah. Frasa "kepalang cinta" mengisyaratkan sebuah jebakan perasaan—ibu tetap bertahan meski hubungan tersebut toxic atau menyakitkan.

    Bait 4: Kesendirian dan Kelaparan Anak-Anak

    adikku makan sendiri
    berdua dengan labu rebus
    bertiga dengan ikan tilan
    berempat dengan cabe bulat

    Penyair menggunakan teknik repetisi bilangan (sendiri, berdua, bertiga, berempat) yang puitis untuk menjabarkan kemiskinan yang ekstrem. Sang adik tidak makan bersama keluarga besar, melainkan "ditemani" oleh lauk pauk yang sangat sederhana dan seadanya (labu rebus, ikan sungai tilan, dan cabai utuh). Ini adalah potret nyata dari kelaparan atau keterasingan seorang anak di dalam rumahnya sendiri.

    Bait 5: Konklusi, Kepiatuan, dan Hubungannya dengan Judul Buku

    siapa yang jadikan ikkayu
    simbol hidup yang piatu
    di mana ibu lebih kelam dari arang,
    lebih hirap dari abu bakaran ladang.

    Bait terakhir ini menjadi kunci dari seluruh puisi.

    • Kata "Ikkayu" diangkat sebagai simbol eksistensi hidup yang "piatu" (bisa berarti kehilangan arah, pelindung, atau kasih sayang sejati).

    • Ibu yang seharusnya menjadi sumber cahaya dan kehangatan justru digambarkan "lebih kelam dari arang"—menandakan keputusasaan yang mendalam atau kehancuran mental akibat situasi hidupnya.

    • Kalimat penutup "lebih hirap [lenyap/hilang] dari abu bakaran ladang" mengikat puisi ini dengan tema besar buku. Abu sisa pembakaran ladang adalah sesuatu yang rapuh, mudah ditiup angin, hitam, kotor, dan menandakan akhir dari sesuatu yang telah hangus terbakar. Sang ibu (atau esensi kebahagiaan rumah tangga itu) telah hangus dan sirna tak bersisa akibat konflik dan kemiskinan.



    Kesimpulan

    Puisi "Ikkayu (2)" adalah sebuah ratapan tentang rapuhnya institusi keluarga akibat himpitan ekonomi dan ketidakharmonisan orang tua. Muhammad Asqalani eNeSTe berhasil memotret tragedi domestik ini bukan dengan gaya mendayu-dayu klasik, melainkan dengan gaya kontemporer yang getir, di mana tawa (lewat istilah populer) dan tangis (lewat metafora abu dan arang) melebur menjadi satu potret realitas sosial yang kelam.

    Daftar Pustaka:

    Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2016). Kamus Besar Bahasa Indonesia daring. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. kemdikbud.go.id

    Eneste, M. A. (2026). Abu bakaran ladang (Sehimpun Puisi dari Masa Lalu ). Penerbit Lumpur.

    Pradopo, R. D. (2021). Pengkajian puisi: Analisis struktural dan semiotik. Gadjah Mada University Press.

    Ratna, N. K. (2009). Stilistika: Kajian puitika bahasa, sastra, dan budaya. Pustaka Pelajar.

    Riffaterre, M. (1978). Semiotics of poetry. Indiana University Press.

    Sudjiman, P. (1993). Bunga rampai stilistika. Pustaka Utama Grafiti.

    Teeuw, A. (2015). Sastra dan ilmu sastra: Pengantar teori sastra. Pustaka Jaya.


    Daris Kandadestra adalah nama pena dari Dedi Saputra. Lahir di Enok, Indragiri Hilir, Riau, 12 Juli 1984. Alumni FKIP Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Riau ini, beberapa karyanya berupa puisi dan cerpen telah dibukukan dalam beberapa antologi bersama. Pernah memenangkan lomba esai dan puisi, serta mengikuti kegiatan sastra/literasi tingkat nasional. Kicauannya dapat dilihat di Instagram @daris_kandadestra atau di akun facebook Daris Kandadestra. Email: dariskandadestra@gmail.com.

    Jika Ibu Murka
    Oleh: Dian Riasari

    Ketika isi hati tumpah, itu Sesuatu Banget
    namun jika tumpah di atas kesabaran ibu, 
    ibu menjelma Kompor lawas bersumbu pendek. 

    Aku kecewa
    air mata menetes di Bibir Kuali
    tempat aku mengaduk manis, asin, asam rasa
    meski gundah, harus kurawat rumah 
    ini lebih sembilu dari Berita di Tivi
    tentang bencana bertubi-tubi. 

    Di sudut kamar, kurenungi Kliping Warisan Ibu
    ada bermacam pola tusuk sulam
    ada akronim resep sambal
    ada kartu-kartu bertulis "jangan"
    ada komat-kamit doa
    ada hal-hal yang tak kutahu namanya. 

    Jika ibu murka, runtuh dinding-dinding rumah
    jika ibu marah, saatnya pejamkan mata
    seraya rengeng-rengeng tembang macapat
    ada Bagian dari Kinanti yang hidup 
    Di Dalam Istana Ikan milikku, 
    yang buat aku tak lagi megap-megap. 

    Malang, Agustus 2026

    Akar Kaki, Sepasang Sayap, dan Jam yang Berdetak
    Oleh: Dian Riasari

    1/
    Tubuhku berakar pakis
    tumbuh di kaki pohon
    mungkin tak tinggi, 
    tapi senantiasa hijau

    Entah ditimpa hujan
    entah dicerca kemarau
    aku bertahan. 

    2/
    Musim-musim berlalu
    tumbuh sayap elang di punggungku
    kutinggalkan pokok besar itu
    melanglang awan

    Di punggung gunung, mataku awas
    seusil apa pun usikan
    kucoba kepakkan sayap 
    setinggi yang kubisa. 

    3/
    Masa merenta
    dalam rumah batin, 
    jam terus berdetak

    Jika kuletakkan sayap, 
    akar kakiku tetap berjalan
    jemari menyulam harapan

    Seiring detik waktu, 
    kutemui orang-orang baru
    untuk mengisi ruang kosong
    dalam dadaku. 

    Malang, Agustus 2026

    Dian Riasari, pegiat literasi dari Kota Malang, Jawa Timur. Berkontribusi pada 40 lebih buku antologi (cerpen, cerita inspiratif, cerita anak, dongeng, artikel, dan puisi) serta satu buku solo. Beberapa karya puisinya dimuat di media online dan cetak, seperti: Harian Bhirawa, Tiras Times, Bambang Kariyawan.com, Ngewiyak, Riau Sastra, Negeri Kertas, Jurnal Tinta, Dermaga Sastra, Kabaran.id, Ranah Riau, Laman Riau, Jurnal Puisi Cinta. Bergabung di komunitas Alumni Asqa Imagination School (AIS), Community Pena Terbang (COMPETER), dan Ruang Kata. IG: @dian_de_lala. FB: Dian Riasari.

    Air yang Mengalir
    Oleh: Kazain Izzativa

    Ajarkan aku sepertimu, air
    ‎Di mana kau sembunyikan getir? 
    ‎Menelusuri celahan egonya batu
    ‎Pun kau tetap utuh
    ‎
    ‎Ajarkan aku sepertimu, air
    ‎Mengalir lembut di kerendahan hati
    ‎Merunduk sabar di puncak rasa
    ‎
    ‎Adakah kau mengenal luka, wahai air? 
    ‎Pecah riak resahmu menganga
    ‎Tapi kau tetap,
    ‎Di genangan tabah
    ‎
    ‎Saat aku tersesat di riuhnya hari
    ‎Kau tetap lembut mengalir
    ‎Deru badai kau hadapi
    ‎Aliranmu tetap sejukkan hati
    ‎
    ‎Sejauh mana kau mengembara, wahai air? 
    ‎Menyusuri lapisan hari menghimpit
    ‎Menghantam tebing pongahnya diri
    ‎Di jejak waktu yang terus menguji
    ‎
    ‎Pada setiap aliran keruhnya dosa
    ‎Bagaimana kau tetap kembali bening? 
    ‎Tanpa penuh meluapkan sakit
    ‎Tanpa perih mengikis hati
    ‎Dan kau, tetap terus mengalir.
    ‎
    ‎Pekanbaru, 4 Agustus 2026

    Afrina Putri Kazain, nama pena dari Kazain Izzativa, lahir di Pekanbaru dan mulai bergabung dengan Community Pena Terbang (COMPETER) sejak 2014. Beberapa karya puisi dan cerpennya pernah dimuat di Riau Pos, Haluan Pos, Lampung Pos, dan Pekanbaru Pos. Karyanya juga pernah tergabung dalam sejumlah antologi bersama, di antaranya Riwayat Asap bersama FLP dan Matahari Riau. Baginya, menulis adalah cara paling utuh untuk mengabadikan rasa dan meninggalkan jejak melalui kata.

    IG: @kazainizzativa
    Threads: kazain_
    FB: Kazain Izativa

    Masihol
    Oleh: Loym R. Sitanggang 

    Di punggung bukit, seintip fajar rekah,
    dia meletak doa, dibumbui aroma kopi,
    dan senandung ilalang. 

    Di kemudian hari dia merapati ratap, 
    dengan liur senja yang menolak malam,
    basah seluruh hidupnya dalam doa.

    Kemarau bergeser lembut menuju musim penyejuk
    sehalus mendung merayu hujan
    luruh, melipat satu demi satu kerinduan
    dalam degub kenangan 

    Alkisah lahirku di ladang kopi yang ranum 
    putiknya salju, dibuai umpasa dari ompung

    “Tinaba parira, bahen hite pargantongan, sai tubu ma boru na pantas marroha, na marparange sitiruon."

    dipeluk doa dan tona damang dainang,
    “Ingkon masihol do boruku mulak tu huta, tano hatubuan”

    Deli Serdang, 22 Agustus 2026 

    Catatan: 
    1 . Masihol: rindu
    2. Umpasa: perumpamaan 
    3 . "Tinaba parira,bahen hite pargantongan, sai tubu ma boru na pantas marroha, na marparange sitiruon.”: Semoga anak perempuan ini tumbuh, menjadi sosok bijak dan berperilaku terpuji dan dapat menjadi contoh.
    4 . Tona damang dainang: pesan ayah dan ibu.
    5 . "Ingkon masihol do boruku mulak tu huta, tano hatubuan.” : Anak perempuanku akan selalu selau rindu untuk pulang ke tanah kelahiran.

    Loym R. Sitanggang, lahir di Sumatera Utara lima puluh tahun lalu. Menulis adalah impiannya sejak lama, di tengah kesibukannya sebagai seorang tenaga kesehatan.

    Menulis merupakan salah satu cara dia mengekspresikan diri tentang sekelilingnya, memotret kehidupan orang-orang di sekitarnya dengan segala kisah, secara fisik maupun mental. Dia sudah menerbitkan beberapa antologi cerpen juga puisi dan saat ini sedang belajar puisi di Asqa Imagination School angkatan #61. Hubungi ia via akun medsos FB: Loym R Stg dan IG: @loym_sitanggang

    Aksara di Hadapan Senja
    Oleh: Sekar Hartono

    Di hadapan senja ranting-ranting menjelma aksara, 
    dengan garis yang tak pernah lurus,
    dengan bahasa yang hanya dipahami angin.

    Aku berdiri di hadapannya,
    mencoba membaca
    lekuk demi lekuk
    yang saling bertindih.

    Tak ada satu pun kata
    yang selesai.

    Di bawahnya,
    matahari perlahan menyentuh bumi,
    seperti titik
    pada kalimat yang panjang.

    Langit berubah warna.
    Ranting-ranting tetap hitam,
    menjadi aksara tua
    yang tak kehilangan makna
    meski berkali-kali diterpa musim.

    Barangkali hidup memang begitu,
    kita tak selalu menulis
    dengan tangan yang tenang.

    Ada garis yang berbelok,
    ada kalimat yang saling bertabrakan,
    ada halaman
    yang terlanjur penuh coretan.

    Senja turun perlahan.
    Matahari menjadi titik merah
    di ujung tulisan.

    Ranting-ranting masih menulis,
    sementara angin
    menghapus satu demi satu
    kata yang belum sempat dibaca.

    Purwokerto, 18 Agustus 2026

    Sekar Hartono lahir di Jakarta dan kini menetap di kota kecil Purwokerto. Kegemarannya menulis bermula dari cerita pendek, yang kemudian membawanya untuk belajar mengekspresikan diri melalui puisi. Dalam proses itu, ia bergabung dengan komunitas Competer sebagai ruang untuk bertumbuh dan berbagi makna. Menulis pun menjadi jalan sunyi untuk menebarkan kebaikan ke semesta. IG: @yanich1394
    Postingan Lama Beranda

    ABOUT US

     



    Platform berisi puisi, quote, buku, dan berita sastra yang diprakarsai oleh Muhammad Asqalani eNeSTe, Eko Ragil Ar-rahman & Cindy Neo.

    SUBSCRIBE & FOLLOW

    POPULAR POSTS

    • PARADE PUISI
    • PARADE PUISI
    • PARADE PUISI
    • PARADE PUISI
    • PARADE PUISI
    • PARADE PUISI
    • PARADE PUISI
    • PARADE PUISI
    • PARADE PUISI
    • Analisis Struktural-Semiotik puisi Ikkayu (2) dalam Sehimpun Puisi dari Masa Lalu Abu Bakaran Ladang karya Muhammad Asqalani eNeSTe

    Categories

    • Berita Sastra 3
    • Buku 1
    • lomba 1
    • puisi 7
    • Puisi 45
    • quote 4
    • sastra 30
    • Sastra 28
    • TBM Cahaya Rumah 1
    • Tentang Kami 1
    • tulisan 1

    Advertisement

    Formulir Kontak

    Nama

    Email *

    Pesan *

    ENESTE.ID



     

    Copyright © ENESTE.ID. Designed by OddThemes