ENESTE.ID
  • Home
  • Tentang Kami
  • Puisi
  • Buku
  • Quote
  • Berita Sastra
  • TBM Cahaya Rumah
    • Literasi Sekolah
      • TK
      • SD
      • SMP
      • SMA
      • KAMPUS
    • Lomba
  • Contact Us
  • Puisi

    Buku

    Berita Sastra


    Air yang Mengalir
    Oleh: Kazain Izzativa

    Ajarkan aku sepertimu, air
    ‎Di mana kau sembunyikan getir? 
    ‎Menelusuri celahan egonya batu
    ‎Pun kau tetap utuh
    ‎
    ‎Ajarkan aku sepertimu, air
    ‎Mengalir lembut di kerendahan hati
    ‎Merunduk sabar di puncak rasa
    ‎
    ‎Adakah kau mengenal luka, wahai air? 
    ‎Pecah riak resahmu menganga
    ‎Tapi kau tetap,
    ‎Di genangan tabah
    ‎
    ‎Saat aku tersesat di riuhnya hari
    ‎Kau tetap lembut mengalir
    ‎Deru badai kau hadapi
    ‎Aliranmu tetap sejukkan hati
    ‎
    ‎Sejauh mana kau mengembara, wahai air? 
    ‎Menyusuri lapisan hari menghimpit
    ‎Menghantam tebing pongahnya diri
    ‎Di jejak waktu yang terus menguji
    ‎
    ‎Pada setiap aliran keruhnya dosa
    ‎Bagaimana kau tetap kembali bening? 
    ‎Tanpa penuh meluapkan sakit
    ‎Tanpa perih mengikis hati
    ‎Dan kau, tetap terus mengalir.
    ‎
    ‎Pekanbaru, 4 Agustus 2026

    Afrina Putri Kazain, nama pena dari Kazain Izzativa, lahir di Pekanbaru dan mulai bergabung dengan Community Pena Terbang (COMPETER) sejak 2014. Beberapa karya puisi dan cerpennya pernah dimuat di Riau Pos, Haluan Pos, Lampung Pos, dan Pekanbaru Pos. Karyanya juga pernah tergabung dalam sejumlah antologi bersama, di antaranya Riwayat Asap bersama FLP dan Matahari Riau. Baginya, menulis adalah cara paling utuh untuk mengabadikan rasa dan meninggalkan jejak melalui kata.

    IG: @kazainizzativa
    Threads: kazain_
    FB: Kazain Izativa

    Masihol
    Oleh: Loym R. Sitanggang 

    Di punggung bukit, seintip fajar rekah,
    dia meletak doa, dibumbui aroma kopi,
    dan senandung ilalang. 

    Di kemudian hari dia merapati ratap, 
    dengan liur senja yang menolak malam,
    basah seluruh hidupnya dalam doa.

    Kemarau bergeser lembut menuju musim penyejuk
    sehalus mendung merayu hujan
    luruh, melipat satu demi satu kerinduan
    dalam degub kenangan 

    Alkisah lahirku di ladang kopi yang ranum 
    putiknya salju, dibuai umpasa dari ompung

    “Tinaba parira, bahen hite pargantongan, sai tubu ma boru na pantas marroha, na marparange sitiruon."

    dipeluk doa dan tona damang dainang,
    “Ingkon masihol do boruku mulak tu huta, tano hatubuan”

    Deli Serdang, 22 Agustus 2026 

    Catatan: 
    1 . Masihol: rindu
    2. Umpasa: perumpamaan 
    3 . "Tinaba parira,bahen hite pargantongan, sai tubu ma boru na pantas marroha, na marparange sitiruon.”: Semoga anak perempuan ini tumbuh, menjadi sosok bijak dan berperilaku terpuji dan dapat menjadi contoh.
    4 . Tona damang dainang: pesan ayah dan ibu.
    5 . "Ingkon masihol do boruku mulak tu huta, tano hatubuan.” : Anak perempuanku akan selalu selau rindu untuk pulang ke tanah kelahiran.

    Loym R. Sitanggang, lahir di Sumatera Utara lima puluh tahun lalu. Menulis adalah impiannya sejak lama, di tengah kesibukannya sebagai seorang tenaga kesehatan.

    Menulis merupakan salah satu cara dia mengekspresikan diri tentang sekelilingnya, memotret kehidupan orang-orang di sekitarnya dengan segala kisah, secara fisik maupun mental. Dia sudah menerbitkan beberapa antologi cerpen juga puisi dan saat ini sedang belajar puisi di Asqa Imagination School angkatan #61. Hubungi ia via akun medsos FB: Loym R Stg dan IG: @loym_sitanggang

    Aksara di Hadapan Senja
    Oleh: Sekar Hartono

    Di hadapan senja ranting-ranting menjelma aksara, 
    dengan garis yang tak pernah lurus,
    dengan bahasa yang hanya dipahami angin.

    Aku berdiri di hadapannya,
    mencoba membaca
    lekuk demi lekuk
    yang saling bertindih.

    Tak ada satu pun kata
    yang selesai.

    Di bawahnya,
    matahari perlahan menyentuh bumi,
    seperti titik
    pada kalimat yang panjang.

    Langit berubah warna.
    Ranting-ranting tetap hitam,
    menjadi aksara tua
    yang tak kehilangan makna
    meski berkali-kali diterpa musim.

    Barangkali hidup memang begitu,
    kita tak selalu menulis
    dengan tangan yang tenang.

    Ada garis yang berbelok,
    ada kalimat yang saling bertabrakan,
    ada halaman
    yang terlanjur penuh coretan.

    Senja turun perlahan.
    Matahari menjadi titik merah
    di ujung tulisan.

    Ranting-ranting masih menulis,
    sementara angin
    menghapus satu demi satu
    kata yang belum sempat dibaca.

    Purwokerto, 18 Agustus 2026

    Sekar Hartono lahir di Jakarta dan kini menetap di kota kecil Purwokerto. Kegemarannya menulis bermula dari cerita pendek, yang kemudian membawanya untuk belajar mengekspresikan diri melalui puisi. Dalam proses itu, ia bergabung dengan komunitas Competer sebagai ruang untuk bertumbuh dan berbagi makna. Menulis pun menjadi jalan sunyi untuk menebarkan kebaikan ke semesta. IG: @yanich1394

    Seng Uzur
    Oleh: Asniar Duha

    sembilan puluh sembilan langkah tenggelam di lumpur  
    rembulan memantau di atas seng uzur  
    sekarung padi mendengkur di lumbung  
    sehelai asap naik di dapur yang lupa nama

    begini kami memikat tubuh pada tanah  
    akar-akar doa jadi gulma  
    rasa lapar karam dalam periuk  
    kami mengayuh sehirup demi sehirup malam kian cungkup

    lampu togok padam  
    ibunya kram  
    ayahnya karam  
    anak-anak jadi kunang-kunang  
    bercahaya dengan sendirinya  
    di bawah pohon yang jadi perpustakaan

    hujan atap  
    angin kipas  
    daun pisang meja  
    bintang lampu jalan  
    jangkrik radio  
    kami miskin  
    tapi kepala kami padat

    kini semua terang  
    kami padam di dalamnya  
    jalan diaspal  
    tapi arah hilang  
    ponsel berbunyi  
    tapi sunyi makin keras

    siapa menggali tanah  
    membuat liang  
    mengubur tawa  
    ke dalam kepalan dendam kemajuan

    Kubang Raya  
    tahun ketika manusia  menancapkan nama jalan
    tapi membubut nama leluhur dan kini asing di negeri sendiri

    Sibolga, 3 Agustus 2026

    Asniar Duha, lahir di Gunung Sitoli 14 Juni 1976. Menetap di Kota Sibolga Propinsi Sumatera Utara. Tertarik menulis sejak Maret 2019 dan bergabung bersama beberapa komunitas menulis online. Karya perdana dengan judul Fake Love di salah satu platform digital dan telah mendapatkan kontrak. Novel Cetak Perdana dengan judul "Terpaksa Mencinta" novel cetak kedua “Bunga dalam Kubangan”, buku bografi cetak berjudul “Meniti Buih Melintas Batas”. Selanjutnya penulis aktif dalam komunitas belajar menulis puisi di Asqa Imagination School (AIS) #33 hingga saat ini di AIS#71. Dan hasil karya menulis puisi tersebut sedang dirilis menjadi sebuah buku solo puisi. 

    Sedangkan karya antologi yang sudah cetak yaitu Merajut Asa dalam Cinta (Cerpen), Mengungkap Ragam Hati Semesta (Cerpen), It's Not To Be OK (Cerpen),  Suami Pilihan (Cerpen), Merajut Asa Dalam Cinta (Cerpen), Tinggal Kenangan (Cerpen), Rangkaian Aksara Berbalut Mutiara (Quotes), Magic Words for Self Healing (Quotes), Serenade Segenggam Uban dan Ruh di Bawah Loteng (Puisi), Kurcaci & Langit Cekung Basah (Puisi). 

    FB: Misis Asniar Duha saja
    IG: @ardha_fadhillah

    Serap Sabar Lebur Makna
    Oleh: Fasha Rizqikan BR. Pane

    Kata "pergi" terlalu ringan untuk luka yang mengendap,  
    dan kata "ikhlas" terlalu berat untuk hati yang masih belajar.  
    Di antara keduanya, aku menanam sabar 
    di halaman rumah yang dulu kita tanami bunga bersama.

    Buram oh mataku buram, membayangkan perpisahan yang tak sempat diucapkan.  
    Seperti senja menatap, diam namun meninggalkan warna  
    yang lama tinggal di mata.

    Pekanbaru, 05 Agustus 2026

    Fasha Nabila Rizqikan Putriani Boru Pane. Adalah siswa kelas X.B SMA Al–Huda Pekanbaru. Kelahiran 31 Maret 2011. IG: @qizunee

    ARSITEKTUR KEBISINGAN
    Oleh: Santri Nurhafni

    Malam begitu hening.
    Namun di dalam diriku,
    sebuah kota runtuh
    tanpa suara.

    Ada nama
    yang terus dipanggil
    oleh dinding ingatan.

    Ada kehilangan
    di kamar-kamar
    yang tak lagi dihuni.

    Aku diam—
    sementara sesuatu
    yang tak selesai
    terus tumbuh menjadi gema.

    Malam semakin sunyi.
    Aku semakin gaduh.

    Barangkali hening
    bukan ketiadaan suara,
    melainkan ruang
    tempat yang tak terucap
    untuk belajar hidup
    di dalam dada.

    Pekanbaru, 5 Agustus 2026

    Santri Nurhafni, lahir di Sungai Batang, dan berdomisili di Pekanbaru, Riau. Di tengah kesibukannya sebagai karyawan BUMN, ia pernah belajar kepenulisan di Asqa Imagination School (AIS) serta aktif mengikuti berbagai kegiatan kepenulisan dan sejumlah antologi puisi, di antara judul puisinya _Mahar Kebebasan, Dan Percakapan, Dan Perjanjian, Hikayat Perjalanan, dan Kau dan Perjanjian._

    Puisi “Ibu” dan “Rumah Sepi” menjadi 10 Puisi Terbaik dalam Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional. Baginya, puisi adalah cara sederhana untuk merawat ingatan dan menyuarakan rasa.

    Facebook:@SantriRasyidsangMentari
    Instagram: @heartlieni

    Renungan Toilet
    Oleh: Dian Riasari

    Sial, belum sembuh sisi robekan dada, 
    koyak lagi di sisi satunya
    kutarik napas panjang
    biar tahu nyawa masih semayam
    jantungku nyaris letup, segera aku berlari
    menuju ruang sembunyi

    Dalam toilet adem, kuputar knop shower
    pecah tangis yang redam sepanjang siang
    beradu ricik air di kepala
    kucing mungil di handuk ikut murung 
    terayun lunglai di gantungan

    Lux aroma velvet jasmine lumuri semua keruh kalbu
    busa bercampur daki luruh di keramik terrazzo
    perlahan kutata patahan hati
    serupa sebaris mozaik di dinding ruang

    Ketika gemuruh dada mulai reda, 
    tetiba perutku meronta
    waktunya bertapa
    buang racun dalam lambung
    kutenangkan diri, duduk rapi
    atur napas, tahan napas
    Lalu, semua lepas. 

    Malang, 7 Agustus 2026

    Dian Riasari, pegiat literasi dari Kota Malang, Jawa Timur. Berkontribusi pada 40 lebih buku antologi (cerpen, cerita inspiratif, cerita anak, dongeng, artikel, dan puisi) serta satu buku solo. Beberapa karya puisinya dimuat di media online dan cetak, seperti: Harian Bhirawa, Tiras Times, Bambang Kariyawan.com, Ngewiyak, Riau Sastra, Negeri Kertas, Jurnal Tinta, Dermaga Sastra, Kabaran.id, Ranah Riau, Laman Riau, Jurnal Puisi Cinta. Bergabung di komunitas Alumni Asqa Imagination School (AIS), Community Pena Terbang (COMPETER), dan Ruang Kata. IG: @dian_de_lala. FB: Dian Riasari.

    Tanah, Sungai dan Tawa
    Oleh: Rini Ahyu

    Jernih, gemercik tetes kehidupan di tebing keniscayaan,
    bening menembus inti geliat kehidupan.
    Liukan aliran Batang Selo, nyawa kampung,
    lengking tawa bertingkah putaran roda,
    dering tiada, hanya gemerisik dedaunan di semilir bayu.
    Hutan, ladang, kebun,
    tempat, alam dan manusia berpelukan dalam kesederhanaan.

    Pecah kepingan kecil batu-batu basah,
    menggunung koin-koin logam di telapak mungil.
    Jemari kecil, wajah sumringah setiap Rabu yang dinanti,
    menyusuri jalan tanah menuju alek pasar mingguan.
    Keringat palu beranak sungai, Kamis hingga Selasa,
    namun perut kosong selalu menemukan kesukaan
    dari hasil kebun, ladang, dan tangan sendiri.

    Berlari, bergenggaman,
    bersama riang tiada nestapa.
    Tapak kecil menjejak pijakan bumi,
    jalan terjal tiadalah susah.
    Ke mana pun kaki melangkah,
    alam membuka jalan,
    angin menyapa, pepohonan memberi teduh,
    sungai menjadi teman perjalanan.

    Senja menurunkan cahaya di antara pepohonan,
    anak-anak pulang membawa tawa dan cerita.
    Di beranda, celoteh ditimpa hikayat para tetua,
    tentang sungai, hutan, ladang, dan leluhur.
    Tak banyak yang dimiliki,
    namun cukup untuk berbagi,
    sepiring nasi, seteguk air,
    dan hangatnya hidup bertetangga.

    Pekanbaru, 9 Agustus 2026

    Rini Ahyu. Kelahiran Padang Ganting, 22 September 1979. Seorang guru yang menyukai dunia kepenulisan dan mulai serius menulis tahun 2000. Aktif menulis antologi dengan beberapa komunitas kepenulisan seperti FLP, JSDI, ATPUSI dan KPBJ. Karya cerpen yang pernah dimuat media massa yaitu *Aku yang Terluka* di Bangka Pos.  

    Kini aktif menulis puisi di kelas puisi Asqa Imagination School (AIS) #71. IG: @riniahyu

    Sebuah Racau
    Oleh: S. N. Aisyah

    Tiap kali kutatap langit 
    Dedaunan seperti mendayu
    Ditiup angin yang syahdu
    Riuh di kejauhan memudar
    Mewujud senyap
    Ketenangan yang tak dapat
    Kubeli di langit-langit mana saja

    Lama sudah aku berbaring
    Di puing-puing bawah tanah
    Kamar pengap tempat mimpi
    Jadi bangkai dan belulang
    Berulang, 
    Menyebar momok dan aroma busuk 
    Mengaduk perut, memuakkan 

    Mungkin saja kematian-kematian
    Harapan hanyalah pelipur lara
    Yang kerap diputar ulang pada gawai;
    Sebuah pelarian dan pengkhianatan kecil
    Dari raksasa yang menyuruk di bawah kolong-kolong yang ditemuinya;
    Anak dari badai es dalam dada dan kobaran api di kepala
    Siap menebas dan membakar 
    belukar dan rambat "si dingin" 
    Memecah cermin jadi beribu ingin

    Telah lama aku berbaring 
    Di ranjang reot yang tak dapat menjamu kantuk
    Melahirkan rutuk yang selalu kukutuk
    Ya. Aku mengutukmu, rutuk.
    Menyiram tahi dengan air seni. 
    "Kerja tak guna," begitulah kata guruku. 
    Kesia-siaan telah susupi materi putih. 
    Otakku jadi kotak-kotak
    Serupa permainan balok di 
    taman kanak-kanak;
    Selalu saja kehilangan tabung
    Memicu tangis yang dibendung

    Kata Ibuku,
    Ah, sial. Aku sudah lupa apa kata ibu
    Sedang Ayah sudah lama menyimpan suara
    Mungkin itulah sebabnya segala bunyi
    menjelma gaduh saja
    Buah dari kesopanan anak durhaka

    Lagi-lagi aku bertanya,
    Jika saja kutengadahkan kepala,
    Pantaskah kiranya kuhaturkan asa
    berkawankan angkasa,
    Menyapa bintang,
    Biarpun nanti hanya dibalas sunyi--
    Dan setangkai
    mawar putih di atas peti? 

    Kota Bertuah, 2026

    S. N. Aisyah. Panggil saja sna. Lahir dan bermukim di Pekanbaru. Menemukan rumah belajar di Competer. Hobinya bermain kata menyeretnya dalam beberapa Antologi bersama, di antaranya Rindu yang Tertinggal di Lembah Harau (puisi), Riuh Riau (puisi), Sayap-Sayap Mimpi (Cerpen), Tujuh Puluh Tujuh (Cerpen), Vellichor seri 3 (Cerpen), Mereka Menangis Demi Senyum Kita Hari Ini (Cerpen), dan Menjadi Wanita Paling Bahagia (Esai). Beberapa karyanya juga pernah dimuat di Riau Sastra.com. Penulis dapat dihubungi di akun Instagram: @sn_aisyah62 atau Facebook: Siti Nur Aisyah.

    Ranting Harapan yang Tua
    Oleh: Daffina Khumaira 

    Maju selangkah dua langkah
    Mundur penuh keraguan 
    Cahaya terbenam di tebing 
    Boneka kayu telah lapuk diselimuti air 

    Lihatlah jam yang usang itu
    Tak lagi memberikan kesempatan 
    Segaris ranting sudah patah dari pohon tua 
    Dimulai bagai berakhir andai

    Ia meninggalkan lorong labirin tak bersudut 
    Melihat jejak tanpa bentuk sempurna

    Pekanbaru, 5 Agustus 2026

    Daffina Khumaira Al-Indra adalah seorang siswi kelas XI.A SMAS Al Huda dan cukup aktif di Ekskul Sastra Al Huda. Kelahiran 17 September 2010. Pernah mengikuti lomba baca puisi di Praktikum Sastra ke 34 di Universitas Riau (UNRI) dan lomba cipta puisi di Bulan Bahasa Universitas Islam Riau (UIR). IG: @im_pineapple04

    Dalam Toilet
    Oleh: Galuh Duti

    dalam ruang bercermin besar itu
    lima menit aku sibuk mengusap muka
    kulihat garis ketakutan seperti urat 
    di bawah kulit menjalar ke mata 
    kucari cara paling sederhana untuk mengeringkan cemas
    dengan tisu atau hand dryer

    tapi inci demi inci takut itu jadi nyeri 
    nyeri yang harus dibilas dengan kucuran air
    dan membiarkan wastafel bekerja:
    menariknya ke dasar pipa

    kurasa
    tak ada satu pun wadah cukup untuk menadah kengerian 
    kecuali toilet!
    tempat orang tak terlalu peduli satu sama lain
    dan flush! 
    masygul itu terbuang tanpa mencuri perhatian

    Malang, 7 Augustus 2026

    Galuh Duti. Perempuan kelahiran Surabaya ini serius menulis mulai tahun 2022. Baginya, menulis puisi selain hobi juga menjadi jalan untuk bahagia. Novela perdananya berjudul Melukis Wajah. Peraih Top 2 Asqa Book Award XXV. Puisi-puisinya dimuat di beberapa media. 
    Untuk menjadikan jejak tulisannya, dia menulis di beberapa antologi puisi. Pembaca dapat lebih dekat dengan penulis melalui IG: @galuhduti FB: @Galuh Duti.

    Danau Tak Pernah Menghakimi Langit
    Oleh: Nurianis Dahlan

    Di tepi danau senja bias cahaya
    ikan menari dalam diam setia
    hati belajar jadi tenang
    saat angin mengusap lelah panjang

    Biar jiwa perlahan pulang
    menyusuri langit mulai temaram
    meski hidup terus berkelana
    selalu ada senja menuntun cara menerima

    Kepada Tuhan pasrah seluruh hati
    meski hujan pernah datang bawa bencana
    semoga esok tetap tumbuh senyum manis
    sebab harapan selalu memetik jalan pulang

    Dunia Impian, 2025

    Nurianis Dahlan lahir di Inuman Kuansing, 1982. Menetap di Batam, mengajar anak-anak sekolah dasar sambil merawat kata. Ia menempuh perjalanan kepenyairan melalui Kelas Puisi Online dan Asqa Imagination School. Bergiat bersama COMPETER Indonesia, COMPETER Batam, Ruang Kata, dan Perhimpunan Penulis Kepri. Buku tunggal pertamanya Lorong Inspirasi terbit tahun 2023, disusul puluhan jejak dalam antologi puisi bersama. Ia merupakan lulusan Kelas Puisi Online Refleksi Jelma Puisi dan Eksperimen Liris di Laboratorium Diksi bersama Muhammad Sholeh Arshatta–Symprerifora Publisher 2026.
    Dapat melihat jejak melalui Facebook: @nurianisrifqi dan akun Instagram: @nurianis.

    Delima di Balik Beton Kimbolton
    Oleh: Eni Widyawati

    Di dalam dada tungku retak dan menua,
    Derak sisa batu-bara memeluk sunyi senja.
    Keriput di kening adalah peta jalan panjang,
    Tempat cucuran peluh dan jelaga lama berperang.

    Ada abu masa lalu yang hinggap di jemari,
    Bekas tempaan asa pada baja yang teruji.
    Anak-anak yang gugur sebelum sempat berdiri,
    Menjadi dentang sunyi dalam dinginnya galeri.

    Langkah kaki gemetar menapak sisa reruntuhan,
    Namun urat nadi tetap mengalirkan keteguhan.
    Bukan mahkota ksatria yang ia junjung tinggi,
    Melainkan denyut iman kaum papa yang terlindungi.

    Kini ia terpasung dalam dingin kastil Kimbolton,
    Gelar ratunya dipreteli,
    dikubur di balik beton.
    Namun di ujung hayat yang ringkih dan terbuang,
    Sumpah setia pada sang raja takkan pernah usai berdentang.

    Kini malam sisa riuh fana,
    Napasnya berbisik pada angin, 
    tabah dan bernyawa.
    Ia adalah benteng terakhir dari sabar dan derita,
    Menyalakan api kecil di pelukan fajar yang buta.

    Malibli, 6 Agustus 2026

    Eni Widyawati, kelahiran Blitar, 28 Juli 1973. Dia menulis puisi sejak tahun 2006. Puisi-puisinya sering menghiasi pojok-pojok media massa seperti puisi; Daffodill, Ibuku Keramatku, Semilir Desaku Lambungkan Anganku, Terikat Rasa, dll. Ia juga menulis buku solo puisi bertajuk Jejak-jejak Pengabdian; Puisi seorang guru dalam merangkai pengabdian, Dari Ruang Kelas ke Lembar Cerita. Dan puisi-puisi yang terangkum dalam antologi: Guru Pandemi Lahirkan Inovasi, Senandung Merdeka Sang Pendidik Bangsa, Singgah Sebentar, Cinta Pertama, Kau Yang Selalu Dalam Do'aku,Tarian Pena Para Dwija Penataran, Seruling Rindu, Simphony Sunyi Di Bawah Langit Persahabatan, Satu Bait Satu Cahaya Untuk Negeri dan Bunga Rampai Kelas Sunyi

    Kini aktif menulis puisi di kelas puisi Asqa Imagination School (AIS) #69 
    IG: @eni.widyawati.31105

    Laut
    Oleh: Faiza Cindy Enjelisa

    ​Seruan angin yang menggema,
    Desir ombak membelai,
    Adanya rindu yang tersampaikan.
    ​Di dalamnya tersimpan banyak hal,
    Telah menjadi saksi waktu yang terus berjalan,
    Memeluk bumi dalam dekapan asin nan abadi.

    ​Pekanbaru, 5 Agustus 2026

    Faiza Cindy Enjelisa. Adalah siswa kelas X.B SMA Al- Huda Pekanbaru. Kelahiran 12 Agustus 2011. Aktif di Eskul Sastra Al-Huda. IG: @cramellyy.cindy

    Dua Kali Dua
    Oleh: Setiabasa 

    Ada sebuah ruang
    yang tak pernah meminta
    siapa pun tinggal.
    Pintunya dikunci.
    Dunia
    tertinggal
    di balik engsel.

    Di dalam,
    waktu menetes
    dari bibir logam.

    tes…

    tes…

    Porselen putih
    menyimpan dingin
    sepanjang hari.
    Cermin
    berkabut,
    mengembalikan
    wajah yang tak utuh.

    Di sini,
    jas digantung,
    cincin dilepas,
    lengan baju digulung.
    Tak ada pangkat
    di antara lutut
    dan lantai.
    Tak ada tepuk tangan
    di balik pintu.

    Hanya napas
    yang sesekali terdengar
    lebih panjang
    dari biasanya.

    Sebuah noda air
    merambat
    di sudut dinding.
    Serangga kecil
    berhenti di dekat lampu,
    lalu terbang
    entah ke mana.

    tes…

    tes…
    Keran tetap bocor.

    Seseorang
    menekan tuas.
    Air berputar,
    membentuk pusaran,
    menarik apa saja
    yang berada di jalurnya.
    Sesaat kemudian,
    permukaan kembali tenang.

    Pintu dibuka.
    Cahaya masuk lebih dulu.
    Kemudian seseorang keluar.

    Hari
    masih berjalan
    seperti biasa.

    Rintis, 7 Agustus 2026

    Setiabasa, seorang ibu rumah tangga, ibu dua orang putra dan nenek sepasang cucu. Menyukai membaca sejak kecil. Fiksi, non-fiksi dan juga puisi. Sejak akhir 2022 mengikuti beberapa kelas online: Uti, Asqa Imagination School (AIS), Ruang Kata, Symprerifora dll, untuk belajar menulis puisi dan karyanya sudah masuk dalam beberapa buku antologi puisi.

    Ia tengah mempersiapkan buku puisi perdananya. Aktif di Kelas Puisi Asqa Imagination School (AIS). IG: @setia.xu

    Mengapa Rindu Tak Pernah Tidur
    Oleh: Abdurrauf Busra

    Di suatu malam yang sunyi 
    Aku bertanya pada diriku
    Meskipun mata telah lama terpejam 
    Ia datang tanpa mengetuk pintu 

    Masuk bersama pada malam hari yang sunyi 
    Menghidupkan kembali kenangan lama
    Rindu yang terpendam dalam hatiku membasahi jiwa

    Ia duduk di sampingku sambil mendinginkan hatinya
    Dan menyimpan kembali kenangan di masa lalu 

    Pekanbaru, 3 Agustus 2026

    Abdurrauf Busra. Adalah siswa kelas XI bismen SMKS Al-Huda Pekanbaru. Kelahiran 16 Oktober 2010. Ia pernah mengikuti lomba baca puisi di Praktikum Sastra ke 34 di Universitas Riau (UNRI) dan Bulan Bahasa di Universitas Islam Riau (UIR). Aktif di Ekskul Sastra Al Huda. IG: @abdurrauf6346

    Siklus Waktu yang Hilang
    Oleh: dr Desi Yulyanti, SpA 

    Langit terang tanpa menara sinyal,
    ia masih utuh
    menjadi atap bagi layang-layang
    yang kami kejar.
    Lapangan memanggil permainan kasti bersorak riuh
    Peluh jatuh bertemu bau matahari di kulit sawo matangku
    Dahaga menguak disiram air tebu nan nikmat
    Angin tersingkap saat jambu air kulahap di dahan paling tinggi di atas atap

    Debu menari di tanah, diterjang kaki-kaki adu galah asin dan cap benteng,
    Tawa dan teriak memekik melewati tali karet gelang sejengkal di atas kepala 

    Tak ada gawai
    Tak ada media sosial
    Hanya radio berdaya baterai, tembang emas Benyamin Sueb dan Ida Royani mengalun di senja temaram, merasuk sukma menghangatkan raga

    Televisi hitam putih 
    Laga Acara Safari, 
    saudara, tetangga nonton bersama,
    aroma risol, bihun goreng dan sambal kacang, mengundang air liur bersuka cita

    Jajanan duapuluh lima rupiah
    terasa lebih mewah
    daripada kopi mahal.
    Es puter,
    Jagung tembak,
    Arum manis,
    dan uang receh di saku
    adalah harta karun
    yang membuat dunia penuh bahagia

    Kini,
    anak-anak menunduk
    bukan mencari semut,
    melainkan mencari sinyal dan sisa kuota,
    Jari-jarinya lincah di atas kaca,
    namun halaman rumah lengang dan hampa

    Tak ada yang salah dengan zaman.
    Hanya saja,
    ada suara-suara
    yang perlahan menghilang,
    teriakan memanggil teman,
    tawa yang pecah di lapangan,
    Congklak dan gasing tidak lagi dipegang,
    Majalah Tom-Tom dan Kuncung yang tidak lagi beredar.
    Mengendap dalam kenangan...

    Sokowaten-Yogyakarta, 4 Agustus 2026

    Dr Desi Yulyanti, SpA. Dokter spesialis anak yang menimba ilmu Subspesialis Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial di FK-KMK UGM, hobi membaca sedari kecil, menulis beberapa antologi dan sudah dipublikasikan, ingin belajar lebih jauh tentang puisi dan berkembang bersama AIS angkatan 71. IG: @dr_desi_yulyanti_pediatrician. FB: Desi Yulyanti

    TALI SEPATU
    Oleh: Rakhma Noen

    embun menempel di ujung sepatu
    dan kau bersiap lagi, bukan?
    periksa tali sepatumu:
    simpul kanan kiri
    saling mengingat

    terik tepat di ubun-ubun
    jalan tak janji landai
    batu-batu merapat
    menguji telapak
    napas lebih dulu tiba
    sebelum kaki melangkah

    bersama debar itu,
    ruang dada melapang
    kaki tak berpindah arah
    kau tak akan membelakangi puncak, bukan?

    waktu memilih senja
    periksa tali sepatumu:
    maaf, ada simpul doa kuikat
    di ujung talinya

    KWB, 05 Agustus 2026

    Rakhma Agustina Sulistyowati lahir di Kota Batu Jawa Timur adalah seorang pendidik di SMP Negeri di Kota Batu. Perempuan penyuka kucing dan trekking ini bertekad belajar puisi sebagai usaha untuk mengasah kepekaan batin di dunia yang bergetah. Kabar sapa di IG: @rakhmanoen

    RUMAH
    Oleh: Ajiz Putra

    Dindingnya bernapas, kadang berbisik nama yang tak pernah ada,
    Cahaya masuk menerangi ruangan yang punya saja makna, di dalamnya topeng gugur, suara yang ditahan, berubah jadi benturan.

    Pekanbaru, 2 Agustus 2026

    M. Al-Aziz Putra Darisman. Adalah siswa kelas VII.A MTS Al- Huda Pekanbaru. Kelahiran 22 Desember 2013. Aktif di Ekskul Sastra Al Huda. IG: @dyts_ itsjizz

    Batu Perdamaian
    Oleh: Iin Oyon 

    Lampu sumbu kain tercelup minyak tanah itu menyala pada pukul
    18.00 saat azan magrib telah berkumandang
    Tergantung di atas meja kayu ruang makan bilik bambu yang temaram cahayanya.
    Menerangi wajah bahagia kami sepulang dari ladang pada pukul lima sore 

    Ibu menyajikan sop jamur merang yang dibawa ayah dari ladang
    Tempe goreng dikasih Wa Tiah dari pasar menyandingi sop jamur
    Nikmat tiada tara santapan malam itu.

    Ayah bercerita kebun di ladang yang baru selesai digarap
    bersama mantu Wa Tiah

    Tumpukan batu menjadi tanda kerja ayah seharian 
    Untuk bangun rumah paman di belakang kebun itu kata ayah 

    Batu sebesar rumah itu tempatku bermain bersama teman sekelas, kami biasa gunakan tuk menguleg pecel dengan bumbu batu bata merah.

    Batu kebun itu kini telah tiada jadi bangunan rumah di kampung kami.
    Tempat kami menatap puncak Merapi dan Merbabu di pagi atau sore hari

    Jika kami pulang, kami rindu batu itu
    Rindu batu besar tempat bermain setiap sore

    Batu perdamaian antar tetangga satu kampung

    Moga batu perdamaian tetap ada dalam hati penikmatnya walau tanpa rupa.
    Perdamaian antar umat manusia lintas waktu dan masa

    Karawang, 2 Agustus 2026

    Iin Oyon seorang wanita tinggal di Karawang, Jawa Barat,  sedang belajar menulis puisi. Pernah ikut menulis 3 antologi puisi dan banyak antologi cerpen. Saat ini aktif di AIS,  kelas Asqa Imagination School. Aktif belajar menulis sejak 2022. IG: @iindaryono

    Pulang di Jejak Kaki
    Oleh: Tri Setyawati 

    hidup kami dahulu 
    selebar pematang sawah
    sepanjang doa di ujung senja 

    jejak-jejak kaki tiap pagi
    menjinak jarak dengan langkah 
    mengurai rindu dengan sapaan

    siang bernyanyi bersama angin di punggung hutan 
    kembali pulang bersama kayu bakar 

    ladang menjadi meja tempat rezeki dihidangkan 
    sungai mengajari kami cara bersuci 

    malam tak pernah gelap 
    ada bintang menjahit langit 
    ada kunang-kunang menabur cahaya di semak

    bahagia kala itu sederhana 
    secukup nasi jagung dan ikan di sungai
    secukup payung daun talas ketika turun hujan

    aku kini masih menyimpan rindu 
    rindu pada hidup yang menapak tanah
    menengadah ke langit 
    dan berjabat tangan dengan manusia 

    Indramayu, 03 Agustus 2026

    Tri Setyawati, M.Pd. Penulis adalah ibu dari dua anak dan menjalani keseharian sebagai pendidik. Hasil karyanya dibukukan dalam beberapa buku antologi dan 4 buku solo. Saat ini ia sedang belajar di Asqa Imagination School (AIS) #71. Jejaknya bisa ditelusuri melalui akun Instagram @tri_setyawati23.
    Postingan Lama Beranda

    ABOUT US

     



    Platform berisi puisi, quote, buku, dan berita sastra yang diprakarsai oleh Muhammad Asqalani eNeSTe, Eko Ragil Ar-rahman & Cindy Neo.

    SUBSCRIBE & FOLLOW

    POPULAR POSTS

    • PARADE PUISI
    • PARADE PUISI
    • PARADE PUISI
    • PARADE PUISI
    • PARADE PUISI
    • PARADE PUISI
    • PARADE PUISI
    • Puisi-Puisi Rini Ahyu
    • PARADE PUISI
    • Puisi-Puisi Sekar Hartono

    Categories

    • Berita Sastra 2
    • lomba 1
    • puisi 7
    • Puisi 40
    • quote 4
    • sastra 30
    • Sastra 22
    • TBM Cahaya Rumah 1
    • Tentang Kami 1
    • tulisan 1

    Advertisement

    Formulir Kontak

    Nama

    Email *

    Pesan *

    ENESTE.ID



     

    Copyright © ENESTE.ID. Designed by OddThemes