ENESTE.ID
  • Home
  • Tentang Kami
  • Puisi
  • Buku
  • Quote
  • Berita Sastra
  • TBM Cahaya Rumah
    • Literasi Sekolah
      • TK
      • SD
      • SMP
      • SMA
      • KAMPUS
    • Lomba
  • Contact Us
  • Puisi

    Buku

    Berita Sastra


    Candi-candi Budha

    Masa kerajaan berjaya
    Konon, berdiri di masa kerajaan Sriwijaya

    Empat candi apik mencolok
    Stupa Mahligai, tinggi mencakar cakrawala
    Candi Sulung melingkar dan Bungsu 
    yang lahir dari batu bata
    Yang akhir ialah Palangka, sebagai altar pemuja

    Batu-batu bertumpuk jadi satu
    Kokoh berdiri tangguh tak runtuh
    Bagai tercipta dari tangan-tangan dewa

    Itulah Muara Takus
    Candi Budha tertua di pulau Percha

    Jambi, Maret 2024

    Aku Adalah Puisi

    Dalam bait-bait puisi
    Aku adalah huruf-huruf lepas
    Yang menjelma burung di alam bebas
    Jadi bebatuan dalam sungai-sungai kehidupan

    Dan aku
    Adalah apa saja yang kuingin
    Tanah, air, angin, dan kobaran api 

    Pun menjadi embun pada puisi-puisi haru
    Menjadi kucing dalam puisi-puisi lucu
    Menjadi harimau dalam luapan emosi
    Aha, jadi bunga-bunga saat bahagia

    Lalu, aku sekadar manusia
    Saat menulisnya

    Pematang Gajah, Mei 2024

    Citra DNA, menulis puisi sebagai pengutaraan rasa. Ia menulis di awal 2020 dengan puisi-puisi ringan. Puisi-puisinya termuat dalam beberapa buku antologi bersama dan juga media online. Ia mulai menulis cerita pendek di tahun 2025. Berproses di kelas puisi online Asqa Imagination (School). Kini ia tengah menyiapkan buku tunggal perdananya.

    @citra_dewinuranggraini
    @cidean_elkhoir

    Malioboro

    titik nol bukan jeda
    ia pengingat alami
    dalam kisah pelik

    kamu melintas
    dengan semerbak bunga
    bagai kuncup indah

    sudah cukup bagiku
    merenda hidup 
    di tengah kebisingan rindu

    ampenan, 14-05-2026: 07.46

    Gembira Loka

    semestinya kita tak ragu
    menyambut bahagia berbalut rindu
    di tengah kekosongan diri

    semestinya aku lebih berani
    menyambut rekah di bibir
    di tengah keraguan itu

    tapi kamu menyimpulnya
    dalam sekedipan mata
    hingga kini kerap mengoyak makna

    ampenan, 14-05-2026: 12 25

    Agus K. Saputra, lahir 14 Agustus 1968. Alumnus Fakultas Ekonomi, Universitas Mataram, Jurusan Manajemen, angkatan 1987. 

    Menyukai puisi sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama dengan cara ikutikutan lomba. Saat di SD Bebedilan II Ciamis, paling antusias dengan tugas drama. Dan hal ini ditekuni saat ikut pelajaran ekstrakurikuler di SMAN 1 Mataram. Lulusan SMAN 1 Ciamis ini adalah seorang pensiunan PT Pegadaian–terakhir bertugas sebagai Lead di Kanwil VII Denpasar, Bali. 

    Kini aktif di Akuair: art & creative enterprise (komunitas seni di Kota Mataram, NTB). Imaji Air Api merupakan buku kumpulan puisinya yang kesembilan. Buku kumpulan puisinya yang sudah terbit adalah Kujadikan 
    Ia Embun (Halaman Indonesia, 2017), Menunggu di Atapupu (Halaman Indonesia, 2018), Sepucuk Surat dan Kisah Masa 
    Kecil (Halaman Indonesia, 2020), Bermain di Pasar Ampenan (Halaman Indonesia, 2021), Mencari Rumah Sembunyi (Halaman Indonesia, 2022), Januari di Kendari (Halaman Indonesia, 2022), Pertemuan Kecil (Halaman Indonesia, 2024)
    dan Buku Harian Merah Muda (Halaman Indonesia, 2024).


    Merah dan Hitam
    Oleh: Dian Riasari

    Kucari-cari merah pada hitungan hari
    Namun, deretan hitam tampak begitu legam
    Kuhitung sampai tujuh
    Berharap merah bergegas datang
    Tapi, lagi-lagi ia tak bertandang

    Dari pagi ke petang, hingga beranjak malam
    Hitungan hari tetap bernuansa kelam
    Diam-diam, kusapa angka ketujuh
    Dia berkata: 
               sebenarnya aku merah, hanya saja 
               tak pernah ada diksi libur
               dalam kamusmu, Bu

    Aku tertegun, menatap alur biru di lenganku
    Merasakan denyut di pundakku
    Dada malam masih bernapas
    Kurebahkan tubuh, membiarkan merah dan hitam
    Beradu lari sepanjang bulan.

    Malang, Mei 2026

    Jejak Dentuman
    Oleh: Dian Riasari

    Hari Minggu pagi, kita duduk di teras
    Jika ada desir rantai sepeda
    Cepat kita berlari, menjemput pria tegap itu
    Ssttt, jangan berbisik di depan Eyang Kakung
    Nanti ada kerut di antara alis
    Nanti tak ada merdu harmonika
    Baiknya, senyum kita pasang dan bicara lantang

    Eyang Kakung bilang,
    Paling enak anak-anak zaman sekarang
    Bisa sekolah dan makan kenyang
    Hidup tenang, bisa bercanda riang
    Dentum paling keras, paling dari petasan 

    Di masa muda Eyang Kakung
    Hidup belum lagi merdeka
    Beras segantang harus betul dihemat
    Jika kompeni datang, orang lari tunggang langgang
    Eyang Kakung pun angkat senapan
    Pijar di langit itu bukan petasan

    Hari itu, Eyang Kakung ikut gerilya
    Lolong senapan memecah udara
    Gelegar bom pekakkan telinga
    Jejak juang itu membekas 
    Nyawa masih tersisa
    Namun telinga tak lagi bisa mencerna suara

    Ngiiing
    Eyang Kakung merapikan alat bantu dengar
    Kita bertepuk tangan
    Itu tanda, Eyang siap mendengar
    Celoteh dan cerita kita.

    Malang, Mei 2026

    Dian Riasari, pegiat literasi dari Kota Malang, Jawa Timur. Berkontribusi pada 40 lebih buku antologi (cerpen, cerita inspiratif, cerita anak, dongeng, artikel, dan puisi) serta satu buku solo. Beberapa karya puisinya dimuat di media online dan cetak, seperti: Harian Bhirawa, Tiras Times, Bambang Kariyawan.com, Ngewiyak, Riau Sastra, Negeri Kertas, Jurnal Tinta, Dermaga Sastra, Kabaran.id, Ranah Riau, Laman Riau, Jurnal Puisi Cinta. Bergabung di komunitas Alumni Asqa Imagination School (AIS), Community Pena Terbang (COMPETER), dan Ruang Kata. IG: @dian_de_lala. FB: Dian Riasari.


    Di Batas Waktu
    Oleh: Syalmiah

    menunggu seperti pisau kecil
    diasah diam-diam oleh waktu
    setiap detik
    adalah ujungnya yang makin tajam
    menusuk mata
    menusuk rasa
    menusuk namamu yang kugantung di kepala

    menunggu seperti
    berjalan di lorong lorong gelap 
    terus menyeret langkah
    dalam ragu yang retak oleh detik-detik kian
    apus dan asa nyaris padam

    aku masih di sini
    di batas waktu makin gigil
    menjaga namamu
    agar tak tenggelam
    ke dasar malam paling sunyi

    Daya, 9 Mei 2026

    Senja di Lereng Usia
    Oleh: Syalmiah

    senja turun
    di lereng usia mulai sepi
    sementara langkah-langkah lama
    masih terdengar samar
    di batu-batu kenangan
    bahkan aku pernah jadi hujan
    jatuh ke langit ibu
    bawa mimpi sebesar lautan
    membakar malam
    dengan api keinginan tak habis-habis

    kini waktu duduk di sampingku
    seperti sahabat tua
    tak banyak bicara
    hanya sudut matanya menunjuk langit
    lalu berkata dalam diam
    kehilangan tak harus ditangisi

    ada wajah-wajah
    telah jadi debu di lorong waktu
    namun peluknya masih tertinggal
    di lipatan doa
    seperti senja tetaskan kenangku
    pada pasir pasir rindu
    yang kubangun di wajahmu

    Daya, Mei 2026

    Syalmiah, adalah salah satu dari 36 Besar Anugerah COMPETER Indonesia (ACI) 2026 yang pemenangnya akan diumumkan pada bulan Januari 2026 mendatang. Hobinya membaca dan menulis. 

    Beberapa karyanya dimuat dalam sejumlah media seperti Timesline, Sastra Sanggam, Ranah Riau, Khatulistiwa, dll. Saat ini ia aktif di Kelas Puisi Asqa Imagination School (AIS) di bawah bimbingan Muhammad Asqalani eNeSTe.

    Lingkaran di Atas Mahkota
    Oleh: Setiabasa

    Di Marseille, janji pernah mekar
    sebelum ambisi membakar peta dan nalar
    Ia lepaskan jemari tulus
    demi mahkota berkilau
    Namun sejarah bukan garis lurus—
    ia lingkaran diam
    yang tak pernah lupa

    Désirée Clary,
    namamu tinggal rindu yang dilipat sunyi,
    ketika seorang Napoleon Bonaparte memilih matahari—

    Kau berjalan di atas luka,
    hingga tiba di utara—
    di pelukan yang tak menakar cinta dengan pedang
    Dan takdir, tanpa suara,
    menyulammu menjadi lebih dari yang hilang

    Sementara ia
    mengejar dunia sampai ke ujung batas
    dan akhirnya terkunci dalam pengasingan
    Singgasananya runtuh tanpa perang,
    namanya tinggal gema
    yang perlahan memudar

    Dan kau—
    yang pernah dibuang seperti catatan kaki,
    duduk di takhta tak tergoyahkan hingga kini
    Bukan dendam yang kau simpan
    melainkan tenang tak terperi

    Roda berputar—diam namun pasti:
    siapa meninggalkan cinta
    akan kehilangan dirinya sendiri—
    dan kadang dunia menyebutnya kemenangan

    Tapi yang bertahan dalam sunyi
    tak perlu menjatuhkan siapa pun
    untuk tetap berdiri

    Rintis, 6 Mei 2026

    Interval di Ujung Kota
    Oleh: Setiabasa 

    Di perhentian ini,
    waktu melambat—
    seolah jarum jam
    kehabisan alasan untuk berputar
    Hanya ada aku,
    bayang papan rute,
    dan angka-angka merah
    membeku seperti luka kecil di dinding sore

    Aku tertahan
    dalam jeda yang dipaksakan

    Buku tertinggal
    jadi ruang kosong di tangan,
    dan informasi keliru
    terus berdetak di kepala
    seperti pengumuman rusak,
    diulang tanpa henti
    Kesal menumpuk perlahan,
    tipis seperti debu tua
    di bangku halte
    terlalu lama menunggu disentuh

    Kenapa aku begitu mudah percaya
    pada arahan keliru?
    Kenapa hari ini
    kutinggalkan satu-satunya teman
    yang mampu jinakkan waktu?
    Namun angin sore datang
    tanpa membela siapa pun
    Ia membawa bau tanah,
    rumput,
    dan kebebasan liar dari padang luas

    Di seberang sana,
    dunia tetap hidup dengan tenangnya sendiri

    Sapi-sapi mengunyah cahaya senja
    di padang rumput basah,
    seolah tak ada yang perlu dikejar
    selain kenyang dan angin
    Angsa-angsa putih
    mengiris permukaan kolam
    dengan gerak nyaris tak bersuara

    Di atas rumput,
    anak-anak berlari mengejar bola
    dan bayang mereka sendiri
    Layang-layang bergetar di langit sore,
    sementara tawa kecil pecah begitu ringan,
    seolah belum pernah mengenal
    jam, kehilangan, atau keterlambatan

    Jauh di halaman rumah,
    seorang ibu menggantung pakaian,
    berkibar seperti doa sederhana
    di bawah langit biru
    yang bersih dari niat buruk hujan

    Sedikit demi sedikit,
    amarah itu luruh
    bersama matahari tenggelam perlahan
    di bahu kota

    Lalu suara mesin terdengar—
    kasar,
    nyata,
    membelah hening di sampingku.
    Sebuah bus datang
    dengan lampu redup,
    seperti mata lelah
    tapi masih tahu jalan pulang

    Aku menarik napas panjang,
    menelan sisa kecewa,
    membiar jeda ini selesai
    tanpa kemenangan

    Rintis, 7 Mei 2026

    Setiabasa, seorang ibu rumah tangga, ibu dua orang putra dan nenek sepasang cucu. Menyukai membaca sejak kecil. Fiksi, non-fiksi dan juga puisi. Sejak akhir 2022 mengikuti beberapa kelas online (Uti, AIS, Ruang Kata, Symprerifora dll) untuk belajar menulis puisi dan karyanya sudah masuk dalam beberapa buku antologi puisi.
    Ia sedang mengikuti kelas puisi AIS#68. IG: @setia.xu

    RUMAH KITA
    Oleh: Grace Gultom

    Kita tidak menumpuk batu,
    Kita menulis dunia dari dekat.
    Suara ragu,
    kalimat tertinggal,
    kita pulangkan agar tak lagi sendiri.

    Di sini, buku tak pernah benar-benar tertutup.
    Jejak dibaca, ditanggapi,
    kadang pula dikoreksi tanpa banyak suara,
    Dan kembali lebih utuh.

    Pena bukan untuk melukai,
    ia memperbaiki.
    Menahan yang hampir runtuh,
    seperti cara kita menjaga.

    Merpati kita lepas berulang kali.
    Menerbangkan nama,
    bukan untuk meninggi sendiri,
    melainkan agar kebaikan punya arah.

    Kita tak selalu serentak.
    Ada yang datang terlambat, ada yang lama diam,
    namun tak pernah benar-benar asing.
    Sebab yang kita rawat bukan hadir,
    melainkan keterhubungan.

    Kini satu dan empat berdampingan,
    bukti dari yang kita jaga bersama,
    tak mudah hilang.

    Kita memastikan
    kata-kata punya tempat hidup,
    lalu manusia tak kehilangan jalan pulang.

    Jambi, 23 April 2026

    Grace Gultom adalah penulis puisi pemula asal Jambi. Ia menulis sebagai cara menyimpan perasaan, pengalaman, dan peristiwa kesehariannya. Menulis baginya bukan tentang kesempurnaan, melainkan keberanian untuk terus belajar dan bersuara. Temukan karya-karyanya dalam Instagram: @nurel.gultom

    ==================================

    Merayakan Kepak Sayap
    Oleh: Dian Riasari

    Malam ini aku merindu sosok remaja itu
    yang kini melangitkan bendera 14 tahun
    di dadamu, aku pernah tersedu
    di pundakmu, kugantungkan asaku
    di hari paling muskil, kau genggam hatiku

    Tak jarang, kutinggalkan kau di sudut kota
    namun selalu kudapati, kau tengah daki gunung tinggi
    sedang aku, menanti benih perdu yang kau bawa
    dari bukit-bukit terjal

    Lenganmu tak pernah lelah merengkuh banyak pundak
    lalu berderap bersama ke puncak
    dari jemarimu, mengalir larik-larik cerita
    terbentang ke segala penjuru mata angin

    Kita tak selalu bertatap mata
    namun ada yang tumbuh bersama, yaitu sayap-sayap tabah
    terjelma dari tinta jiwa
    Jika kepak sayapku tak mampu menembus langit biru,
    kuharap kau tetap dampingi aku
    untuk menulis dunia, menerbangkan nama, kebaikan tujuan utama.(*)

    Malang, 23 April 2026

    (*): semboyan Community Pena Terbang (COMPETER) Indonesia.

    Dian Riasari, pegiat literasi dari Kota Malang, Jawa Timur. Berkontribusi pada 40 lebih buku antologi (cerpen, cerita inspiratif, cerita anak, dongeng, artikel, dan puisi) serta satu buku solo. Beberapa karya puisinya dimuat di media online dan cetak, seperti: Harian Bhirawa, Tiras Times, Bambang Kariyawan.com, Ngewiyak, Riau Sastra, Negeri Kertas, Jurnal Tinta, Dermaga Sastra, Kabaran.id, Ranah Riau, Laman Riau, Jurnal Puisi Cinta. Bergabung di komunitas Alumni Asqa Imagination School (AIS), Community Pena Terbang (COMPETER), dan Ruang Kata. IG: @dian_de_lala. FB: Dian Riasari.

    ==================================

    ELEGI GERBONG EMPAT BELAS
    Oleh: Pramesetya Aniendita

    Pada gerbong renta empat belas musim
    kami menumpangkan lelah pada bangkunya
    lajunya membawa angin dan tawa singgah
    meninggalkan peron tuk setia menanti.
    
    Di lorong sempit langkah pernah tersayat
    oleh duri perjalanan yang tak selalu tampak
    dari luka kecil kami mengeja sabar
    menyulam kembali aksara yang hampir tercerai.

    Gerbong jadi ruang singgah sebelum pulang
     tempat kata-kata duduk tanpa sekat
     di bangkunya aksara tumbuh perlahan
     menjadi pelukan bagi hati yang penat.

    Gerbong empat belas itu terus melaju
    kini makin penuh penumpang
     dindingnya dijaga harapan yang panjang
     hingga tak ada sunyi yang dibiarkan sendiri.

    Teluk, 25 April 2026

    Pramesetya Aniendita, atau yang akrab disapa Dita, merupakan 10 besar Duta Anugerah Competer Indonesia 2026. Ia kerap menjuarai lomba puisi, antara lain Juara 3 Lomba Puisi SIP Publishing bersama Nana Sastrawan (2024), Juara 2 AIS (2025), serta Juara 1 Event Senandika bersama Tuang Aksara (2026), dan berbagai kompetisi literasi lainnya. Dita juga produktif berkarya. Ia telah menelurkan 12 buku solo serta berkontribusi lebih dari 100 buku antologi. Karya-karyanya pun telah terpublikasi di berbagai media online. Yuk, kenal lebih dekat dengan Dita melalui Instagram @book.wormholic.

    Konvergensi dalam Tubuh Aksara
    Oleh: Sekar Hartono

    Di ruang tanpa koordinat,
    awalnya kita hanyalah serpihan 
    yang tak diakui langit tanpa nama,
    aksara yang tersesat dari rahim makna.

    Kau bukan sekadar suara,
    melainkan pantul dari sesama,
    yang menelisik retakku sendiri.

    Kita saling menyalin detak,
    menyulam luka,
    menjadi ruang teduh bagi kata.

    Tak ada aku yang utuh,
    tak ada jarak yang tersisa,
    hanya tubuh aksara yang dirawat bersama.

    Empat belas tahun saling menjaga,
    bertarung di medan aksara, 
    hingga menjadi simpul-simpul tafsir.

    Competer, nama yang kita sematkan pada perjalanan yang tak rampung.

    Dan bila kelak,
    nama-nama kita luruh dari ingatan dunia,
    biarlah yang tertinggal  bukan rupa,
    melainkan tapak sunyi 
    yang kita torehkan bersama, 
    mengendap,
    tak tercerai
    di tubuh aksara yang enggan gugur.

    Purwokerto, 23 April 2026

    Sekar Hartono lahir di Jakarta dan kini menetap di kota kecil Purwokerto. Kegemarannya menulis bermula dari cerita pendek, yang kemudian membawanya untuk belajar mengekspresikan diri melalui puisi. Dalam proses itu, ia bergabung dengan komunitas Competer sebagai ruang untuk bertumbuh dan berbagi makna. Menulis pun menjadi jalan sunyi untuk menebarkan kebaikan ke semesta. IG: @yanich1394

    =================================

    Foniks Hijau yang Terbang di Samudera Rasa
    Oleh: St. Alifatul Luthfiyah

    bukanlah sekadar cerita lalu;
    satu batu
    yang dipegang dua burung
    iqra' pada punggung yang satu
    punggung kedua dilimbur wal qalami wa maa yasthurūn

    hujan-kemarau, kemarau-hujan diterabas
    satu-dua hingga empat belas warna langit
    t'lah direkam oleh empat anak mata

    kadang terbang;
    mengalun remah di atas air
    menukik di titik nadir, lalu
    mendugas di pucuk lazuardi

    burung-burung yang lahir dari gua garba
    sepasang iqra' dan wal qalami wa maa yasthurun
    terbang
    meninggalkan segala rikuh
    mengepakkan sayap satu-satu
    sambil dirawatnya batu
    yang sedikit rengkah
    tertampar puting beliung
    lepas hingga tubir relung jantung
    dan terbang melesat
    melewati pucuk-pucuk asa
    hingga berabad-abad
    abadan, abadan
    abadi

    Gresik, 25 April 2026

    St. Alifatul Luthfiyah. Penulis pemula yang lahir kembali dari jatuh bangun di dunia literasi. Mengupgrade diri di COMPETER Indonesia, Asqa Imagination School, Kelas Puisi Alit dan kelas kepenulisan lain yang berfokus pada sastra, khususnya puisi. Pernah menjadi 1st Winner Festival Menulis Cerpen Jatim 2010, 2nd Runner Up Anugerah COMPETER Indonesia 2025 dan 1st Winner Asqa Book Award XXV. Puisinya ditayangkan di berbagai platform online dan dimuat di antologi bersama. Silakan kunjungi IG: @alifa_56 dan karyaalifa.blogspot.com untuk korespondensi.
    Postingan Lama Beranda

    ABOUT US

     



    Platform berisi puisi, quote, buku, dan berita sastra yang diprakarsai oleh Muhammad Asqalani eNeSTe, Eko Ragil Ar-rahman & Cindy Neo.

    SUBSCRIBE & FOLLOW

    POPULAR POSTS

    • Puisi-Puisi Agus K. Saputra
    • Puisi-Puisi Dian Riasari
    • Puisi-puisi Adnan Guntur
    • Puisi-Puisi Citra DNA
    • Puisi-Puisi Syalmiah
    • Puisi-Puisi Setiabasa
    • Puisi-Puisi SaidK
    • Puisi-Puisi Galuh Duti
    • PARADE PUISI
    • PARADE PUISI

    Categories

    • Berita Sastra 1
    • puisi 7
    • Puisi 26
    • quote 4
    • sastra 29
    • Sastra 8
    • Tentang Kami 1
    • tulisan 1

    Advertisement

    Formulir Kontak

    Nama

    Email *

    Pesan *

    ENESTE.ID



     

    Copyright © ENESTE.ID. Designed by OddThemes