ENESTE.ID
  • Home
  • Tentang Kami
  • Puisi
  • Buku
  • Quote
  • Berita Sastra
  • TBM Cahaya Rumah
    • Literasi Sekolah
      • TK
      • SD
      • SMP
      • SMA
      • KAMPUS
    • Lomba
  • Contact Us
  • Puisi

    Buku

    Berita Sastra


    Satu Helai Napas Malam
    Oleh: Rini Ahyu

    Dua alam berpadu, belahan jiwa menyatu. 
    Cinta Dewa dan Tanah Bumi menemukan singgasananya.
    Berkat cinta, persembahan sang Dewa,
    kota megah mahakarya simetris.
    Kuningan yang berkilau, timah, dan orichalcum,
    arsitektur yang bernyawa.

    Istana menantang langit.
    Keserakahan, kesombongan dan ambisi,
    hati lebih dingin dari marmer istana.
    Pembusukan moral di mana-mana,
    Murka para Dewa.

    Satu helai napas malam,
    menelan seluruh ambisi,
    mengunci Atlantis,
    dalam pelukan murka ombak,
    Kota emas turun ke dasar sepi,
    biarkan laut menghapus jejaknya.

    Namun abadi dalam peta mimpi dan legenda.

    Pekanbaru, 12 Juli 2026

    Senja di Ujung Tenggara
    Oleh: Rini Ahyu

    Angin senja menyapa lembut helaian daun
    Pusaran waktu bergulir dua abad yang lalu
    Berdampingan memandang jatuh lembah hijau 
    Gema suara berkisah dari pucuk ranji. 

    Satu lembah, bukit menjadi pembatas daerah.
    Bentangan petak-petak sawah,
    menguning bagai hamparan emas.
    Batang Selo mengalir bening,
    menyimpan pantulan langit.

    Di ujung tenggara Tanah Datar,
    kepulan tipis sumber air panas,
    seolah bumi mengembuskan napas
    para pendahulu.

    Akulah akar yang menembus tanah.
    Ayahmu batang yang menjulang.
    Engkau ranting yang meneruskan musim.
    Kami menugal,
    menanam,
    menuai,
    menghidupi hari dari musim ke musim.

    Ranji sampaikan guratan garis dari abad ke abad.
    Jejak darah mengalir jadikan kompas asal usul.
    Setiap nama adalah arsip tak bersuara,
    Rawat tali rahim yang takkan putus.

    Pekanbaru, 13 Juli 2026

    Rini Ahyu. Kelahiran Padang Ganting, 22 September 1979.Seorang guru yang menyukai dunia kepenulisan dan mulai serius menulis tahun 2000. Aktif menulis antologi dengan beberapa komunitas kepenulisan seperti FLP, JSDI, ATPUSI dan KPBJ. Karya cerpen yang pernah dimuat media massa yaitu Aku yang Terluka di Bangka Pos.  

    Kini aktif menulis puisi di kelas puisi Asqa Imagination School (AIS) #70. IG: @riniahyu

    Moldova, Negeri yang Menyimpan Cahaya
    Oleh: Sekar Hartono

    Di antara sisa-sisa musim yang merambat pelan,
    Moldova tumbuh bagai pohon anggur tua,
    akarnya memeluk tanah,
    rantingnya menyentuh langit yang berubah-ubah.

    Di ruang bawah tanah, anggur beristirahat,
    waktu tak benar-benar diam.

    Ia menyimpan suara leluhur,
    jejak langkah yang pernah terusir,
    dan doa-doa yang tetap menemukan jalan pulang.

    Sungai Dniester mengalir tenang,
    bagai ingatan yang menolak hilang.

    Ia membawa resonansi masa lalu,
    tentang perang yang pernah datang,
    tentang luka yang belajar pulih.

    Di ladang-ladang hijau,
    rakyatmu menanam lebih dari sekadar biji.

    Mereka menanam nama,
    menanam bahasa, 
    hingga garis-garis batas 
    tak lagi mampu
    mengukur sebuah bangsa.

    Moldova,
    engkau bukan sekadar titik kecil
    yang terhimpit bayang-bayang raksasa.

    Engkau adalah tangan-tangan sederhana
    yang menyalakan pijar,
    ketika sejarah berulang kali mencoba memadamkannya.

    Biarkan dunia membaca namamu
    bukan hanya di garis batas peta,
    tetapi dari aroma anggur,
    nyanyian desa,
    dan hati rakyat yang berkata:

    "Kami ada.
    Kami pernah terluka.
    Namun, kami tetap Moldova."

    Purwokerto, 8 Juli 2026

    Retakan yang Mengingat Cahaya
    Oleh: Sekar Hartono

    Malam melipat suara.
    Aku duduk di ambang hening,
    tempat bayang-bayang mengembalikan namaku
    dengan ejaan yang tak lagi kukenal.

    Di telapak waktu
    syukur bukan lagi ucapan,
    melainkan urat-urat cahaya 
    yang diam-diam menjahit retak di dada.

    Aku pernah memelihara angin
    hingga ia menjelma mara bahaya,
    kesombongan tumbuh
    bagai lumut di dasar mata,
    menghijaukan segala yang semestinya bening.

    Lalu Kau hadir
    bukan sebagai gelegar,
    melainkan embun
    yang mengajari batu cara menangis.

    Ya Allah,
    Engkau Ar-Rahman,
    yang menyalakan pelita di reruntuhan batinku,
    Engkau Al-Latif,
    yang menyelundupkan fajar
    ke dalam kantong-kantong gelap sukmaku.

    Kini kupelihara mahabah
    seperti burung yang menolak sangkar;
    ia terbang menembus rusuk-rusuk langit,
    mencari-Mu
    tanpa peta, tanpa alamat,
    hanya dipandu denyut yang tak pernah berdusta.

    Dan ketika subuh membuka kelopak bumi,
    aku mengerti:
    muhasabah bukan menghitung dosa,
    melainkan membiarkan jiwa
    dibaca kembali oleh-Mu.

    Purwokerto, 7 Juli 2026

    Sekar Hartono lahir di Jakarta dan kini menetap di kota kecil Purwokerto. Kegemarannya menulis bermula dari cerita pendek, yang kemudian membawanya untuk belajar mengekspresikan diri melalui puisi. Dalam proses itu, ia bergabung dengan komunitas Competer sebagai ruang untuk bertumbuh dan berbagi makna. Menulis pun menjadi jalan sunyi untuk menebarkan kebaikan ke semesta. IG: @yanich1394

    ‎SULASTRI NAMAKU
    ‎Oleh: Uleceny
    ‎
    ‎malam bersinar bulan terang
    ‎kerang-kerang laut pesta melepas sel telur dan sperma ke air 
    ‎kucing liar berpesta pora
    ‎tikus-tikus sembunyi dengan manisnya
    ‎
    ‎tangis pertama pecah malam itu
    ‎bayi perempuan prematur memegang takdir 
    ‎dari rahim penuh amniotik ke dunia fana
    ‎Ayah, ibu menunduk: doa menjadi nama--- Sulastri
    ‎
    ‎5 Juli, mulai tumbuh di bumi Sumbawa 
    ‎disirami cahaya bintang-bintang
    ‎menjadi ranting pertama paling kokoh di antara ranting pohon 
    ‎menjadi ranting penopang bagi ranting yang lainnya
    ‎
    ‎kadang angin mulai berembus, kuhalau menjadi bulir-bulir harapan
    ‎sebab ingin berpesta seperti kerang laut
    ‎mampu menyimpan segala resah, walau bulan penuh milik kelahiranku. 
    ‎
    ‎Gedung PGRI Sumbawa, 28 Juni 2026

    AKAR
    ‎Oleh: Uleceny
    ‎
    ‎kausiram akar pohon rindu
    ‎kauberi pupuk 
    ‎pada anak-anak akar
    ‎pada daun-daun menyimpan hujan
    ‎pada bebunga menanti arak-arakan
    ‎
    ‎akar-akar berbisik: siapa yang menakar udara?
    ‎menanam bibit di pot-pot harap
    ‎secawan arak kau siram semalam
    ‎pagi berkecambah luka. 
    ‎
    ‎yang benar-benar peduli 
    ‎adalah yang tertanam dalam tanah batin
    ‎yang berbagi dalam gelap
    ‎yang terus terjaga
    ‎tumbuhkan akar kasih sayang
    ‎
    ‎dalam sadar__
    ‎akar memberi nutrisi
    ‎arak merusak akar
    ‎bila kau tak menjaga cahayanya
    ‎runtuhlah pohon
    ‎daun-daun gugur
    ‎buah terkubur dalam angan
    ‎
    ‎__dalam doaku tiada berbilang, tumbuhlah dengan baik. 
    ‎
    ‎Sumbawa, 5 Juli 2026

    Uleceny, dilahirkan di Sumbawa 5 juli, menulis puisi, cerpen, sudah menerbitkan 3 buku antologi antologi puisi tunggal dengan judul " Rindu Perempuan Rumah Panggung" dan " Cinta Sebening Madu ( Nominasi Buku Satra Indonesia 2024 dan buku sastra terpilih dalam FSIGB 2023) " Serta " Perempuan penjaga Tradisi ( Buku puisi pilihan dalam Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2024). "dan cerpen tunggal ' Merindang Rindu (Hyang Pustaka 2024) . Aktif belajar puisi di Asqa Imagination School (AIS). 
    ‎Aktif Komunitas Sastra Sumbawa PANRE SATERA SUMBAWA. 
    ‎IG: @sulastri. saguni

    Tuhan dan Jumat
    Oleh: Syalmiah

    konon,
    Jumat adalah pintu
    yang tak dibuat
    oleh tangan siapa pun
    tiap kubuka
    aku justru ada
    di dalam diriku sendiri

    di sana,
    angin gantungkan bayang
    pada akar hujan
    burung-burung
    bertelur cahaya
    dan waktu
    gembalakan jam
    yang hilang angka

    aku ingin menyebut nama-Mu
    tapi lidahku
    berubah sungai
    mengalir tak pernah sampai
    ke laut bunyi
    lalu kulihat sehelai daun di hari Jumat
    tumbuhkan langit
    sementara batu
    diam-diam jadi air

    barangkali
    Engkau memang
    tak tinggal di puncak doa
    Engkau sembunyi
    di balik segala yang tak usai kupahami—
    seperti benih mimpikan hutan,
    atau senja
    yang menyimpan fajar.

    aku berhenti mencari-Mu
    dengan mata.
    sebab setiap aku kehilangan arah
    ada yang tak bernama
    diam-diam
    temukan diriku

    Kodam 2, 4 Juli 2026

    Hutan
    Oleh: Syalmiah

    mula-mula kubaca
    sebagai hutan—
    tempat pohon-pohon
    menyimpan umur
    di balik lingkar batangnya.

    lalu satu huruf bergeser.

    tinggallah hutan
    yang kehilangan h
    menjadi utan
    sesuatu yang tak ada
    namun mengajariku
    arti kehilangan
    mengukir bahasa baru

    huruf-huruf terus berpindah.

    hutan, berubah tuhan
    dalam batinku
    hutan adalah cara bumi 
    menyebut Tuhan tanpa suara.
    ia menyingkap tabir yang menutup pandangku 

    aku melangkah
    makin jauh.

    pohon-pohon bukan pohon
    melainkan doa
    yang sedang berdiri.
    daun-daun bukan daun
    tapi telinga
    yang dengarkan angin
    menghafal nama-nama.

    dan aku—

    hanya sepotong huruf
    yang tersesat
    di antara kata-kata,
    berharap suatu hari
    dapat kembali
    jadi kalimat
    yang utuh

    Kodam 2, 4 Juli 2026

    Syalmiah, adalah salah satu dari 36 Besar Anugerah COMPETER Indonesia (ACI) 2026 yang pemenangnya akan diumumkan pada bulan Januari 2026 mendatang. Hobinya membaca dan menulis. 

    Beberapa karyanya dimuat dalam sejumlah media seperti Timesline, Sastra Sanggam, Ranah Riau, Khatulistiwa, dll. Saat ini ia aktif di Kelas Puisi Asqa Imagination School (AIS) di bawah bimbingan Muhammad Asqalani eNeSTe. IG: @syalmiah74_

    LEKUK PEREMPUAN

    Belajar dari simbah, perempuan harus mengalah Tak boleh marah, meski hati berdarah Tak boleh dendam, meski dada pernah lebam Semua cukup dijalani, tanpa digetuni

    Belajar dari ibu, perempuan kudu tangguh Tak usah mengeluh, meski banjir peluh Kudu pintar, agar tak gampang diremehkan Kudu mandiri, biar punya harga diri

    Belajar dari kenyataan Tetap pamali perempuan mendahului 
                         : Meski kartini bicara emansipasi

    Solo, 2023

    ALUN-ALUN WONOSOBO   

    Kau menyambutku dengan hujan bau dingin dan semangkuk mie ayam pinggir jalan. Sebelum map membawaku ke ladang, bertemu sungai dan penginapan limapuluhan

    Di September genit Angin mengajari kasmaran, pada kelokan setapak juga masjid agung yang kokoh tegak Padamu, aku menjelma remaja lagi Menari centil saat maghrib memanggil Lalu di ubun-ubun kota, selembar sajak memerah muda Menagih alamat syurga

    Solo, 2026

    Seruni Unie, penikmat puisi asal Solo. Beberapa karyanya berupa gurit, puisi, dan cerkak, terbit di sejumlah media. Pula termaktup dalam 90an antologi bersama.

    Oleh: Muhammad Asqalani eNeSTe 

    Pagi itu, orang-orang berdatangan ke TBM Cahaya Rumah. Suasana tampak sibuk. Yang datang aneka rupa dan kostum. Apa pasal?

    Ya, mereka adalah anak-anak Sekolah Dasar (SD) yang datang bersama orangtua atau pendamping untuk semangat mengikuti Lomba Baca Puisi se-Pekanbaru.


    Meski se-Pekanbaru, mengingat bahwa lokasi TBM Cahaya Rumah masuk ke kawasan Kabupaten Kampar, maka otomatis anak-anak dari TBM Cahaya Rumah adalah utusan Kampar, bukan Pekanbaru. Bahkan Arsyla utusan dari Lenggok Media berasal dari Kabupaten Rokan Hulu. Karena sebenarnya, penyebutan Pekanbaru sejatinya siapa saja yang ingin ikut berkompetisi, tampil berani dan mengasah bakat.

    Berikut deretan nama yang masuk di 10 Besar:

    JUARA

    Juara 1: Alma Ayatunnisa Fadhli
    Juara 2: Aisha Dzalila Capriana
    Juara 3: Sinta Sartika

    HARAPAN

    Harapan 1: Muhammad Syarizky
    Harapan 2: Khaila Fitri Ramadhani
    Harapan 3: Aisha Khansa Putri Elmas

    10 BESAR

    Peringkat 7: Muhammad Raja Alfin
    Peringkat 8: Raisya Atthahirah
    Peringkat 9: Nyi Ayu Siti Julaiha
    Peringkat 10: Arsyla Juerli Fitri

    Juara 1 berasal dari SD An-Namiroh, Juara 2 dari SD 144 Pekanbaru, Juara 3 hingga Peringkat 8 diborong oleh peserta dari TPQ Ar-rahman.

    TBM Cahaya Rumah sendiri harus tersenyum di Peringkat 9, dan Arsyla dari Rokan Hulu di posisi 10.


    Ada hampir 30 peserta dari berbagai sekolah dan lembaga, khususnya yang terafiliasi dengan TBM Cahaya Rumah.

    Uang Tunai + Piala + Buku

    Lomba Baca Puisi Kusta karya Cindy Neo, menghadirkan penulisnya langsung, yaitu Cindy Neo, yang merangkap sebagai juri.

    Selain sponsor tunggal acara ini, kami juga ingin memberikan pengalaman spesial bagi Cindy, melihat bagaimana puisinya dibacakan dan diapresiasi.


    Benar, mata Cindy berkaca-kaca. Selain bangga karyanya dibacakan oleh peserta, beliau juga terharu terhadap totalitas para peserta lomba, terbukti dengan adanya sejumlah peserta dengan kostum yang benar-benar terniat, hingga aksi mengoyak baju kala tampil.

    Cindy berharap, acara semacam ini terus berlanjut, hingga adik-adik sejak kecil telah dekat dengan sastra.

    Kebahagiaan ini ditutup pemberian hadiah berupa piala, uang pembinaan, dan buku puisi Dalam Sunyi Aku Pulang, karya Cindy Neo.

    Tampak wajah yang tidak asing di antara foto yang tertangkap. Eko Ragil Ar-rahman sebagai penyair muda Riau, dan Laura Rafti sebagai guru ekskul sastra Al Huda.

    Akhirnya, peserta dari Azzamy Library pulang setelah berpose dengan Cindy Neo, disusul peserta lain, dengan cerita yang melekat di kepala untuk diceritakan.


    Muhammad Asqalani eNeSTe. Penyair. Pendiri TBM Cahaya Rumah.

    SEBUAH RESTO SEAFOOD

    1.
    ini malam aku lihat langit tanpa kenangan apa-apa; tiada 
    pertengkaran atau rindu dan alir sungai kecil di samping rumah 
    nyaris tidak menciptakan riak; hanya bisik halus: sedalam-dalam 
    luka akan lebih indah luka puisiku yang kaupeluk di kursi depan 
    sebuah resto seafood, siang itu...

    2.
    aku selalu ingin tidur seraya memeluk kenangan-- berpeluk hati 
    di teras depan sebuah resto seafood dan bermimpi daya pesona 
    perempuan embun tidak membuat aku bodoh dan gila!

    Jaspinka, 25 Mei 2026

    DEBUR YANG SELALU MENCIPTAKAN SEJARAH BARU

    sedalam apa kauselami lautku, sesetia apa? tak 'kan mudah karena 
    lautku penuh gelombang dan ceruk karang-- yang selalu siap
    memusar orang-orang tulus kian dalam kian paham; mulianya cahaya 
    yang berkelebat dari ketinggian mercusuar di atas bongkah karang
    : "sudah begitu lama dalam satu perahu, au, desir angin laut telah  
    begitu khusuk kaunikmati; pertengkaran dan rindu serupa apa belum 
    kaurasakan? rahasia luka serupa apa tak kaupahami? aku bisa gila, 
    bisa gila, andai saja harus berpisah!" au, debur itu, selalu menciptakan 
    sejarah baru ketika membentur ceruk karang, au, debur itu, mengayun-
    ayunkan perahu maha kasih!

    Jaspinka, 22 Mei 2026

    Eddy Pranata PNP, penyair Minangkabau kelahiran kota Padangpanjang, 31 Agustus 1963. Sekarang menjabat sebagai Ketua Jaspinka— Jaringan Sastra Pinggir Kali, Cirebah, Banyumas. Eddy adalah peserta Pertemuan Penyair Nusantara XIII September 2025 di Jakarta dan penerima apresiasi/bantuan pemerintah dari Badan Bahasa tahun 2025 atas dedikasinya berkarya sastra terus menerus sejak tahun 1980.
    Postingan Lama Beranda

    ABOUT US

     



    Platform berisi puisi, quote, buku, dan berita sastra yang diprakarsai oleh Muhammad Asqalani eNeSTe, Eko Ragil Ar-rahman & Cindy Neo.

    SUBSCRIBE & FOLLOW

    POPULAR POSTS

    • Puisi-Puisi Uleceny
    • Puisi-Puisi Syalmiah
    • Puisi-Puisi Seruni Unie
    • Kusta: Lomba Baca Puisi karya Cindy Neo
    • Puisi-Puisi Sekar Hartono
    • Puisi-Puisi Eddy Pranata PNP
    • Puisi-Puisi Citra DNA
    • Puisi-Puisi Dian Riasari
    • Puisi-Puisi Wahyu Tanoto
    • Puisi-Puisi Agus K. Saputra

    Categories

    • Berita Sastra 2
    • lomba 1
    • puisi 7
    • Puisi 32
    • quote 4
    • sastra 30
    • Sastra 14
    • TBM Cahaya Rumah 1
    • Tentang Kami 1
    • tulisan 1

    Advertisement

    Formulir Kontak

    Nama

    Email *

    Pesan *

    ENESTE.ID



     

    Copyright © ENESTE.ID. Designed by OddThemes